Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia Resmi Dibuka di Universitas Al-Azhar Mesir, Ini Fakta-Faktanya

Mendikdasmen dengan perwakilan dari Al-Azhar saat meresmikan pembukaan prodi bahasa Indonesia di Al-Azhar, Foto: Antara
Mendikdasmen dengan perwakilan dari Al-Azhar saat meresmikan pembukaan prodi bahasa Indonesia di Al-Azhar, Foto: Antara

Kairo, Afwaja — Bahasa Indonesia mencatat perkembangan baru di tingkat internasional. Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, resmi membuka Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia di bawah Fakultas Bahasa dan Terjemah. Kehadiran program studi ini menjadi bagian penting dari upaya memperluas pengajaran bahasa Indonesia sekaligus memperkuat hubungan akademik dan kebudayaan antara Indonesia dan Mesir.

Program studi tersebut secara resmi diresmikan pada 6 November 2025 oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia Abdul Mu’ti bersama Rektor Universitas Al-Azhar, Salamah Daud. Sebelumnya, pendirian program studi telah memperoleh persetujuan Majelis Tinggi Al-Azhar melalui keputusan Nomor 343 dalam sidang pada 21 Juli 2025.

Menjadi Prodi Bahasa Indonesia Pertama di Timur Tengah

Pembukaan Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia di Al-Azhar disebut sebagai program studi pertama di kawasan Timur Tengah. Program ini tidak hadir secara tiba-tiba. Pengajaran bahasa Indonesia di lingkungan Al-Azhar telah berlangsung sejak 2016 melalui program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA), hasil kerja sama Indonesia dengan pihak Al-Azhar.

Perkembangan tersebut kemudian mengantarkan bahasa Indonesia ke tingkat yang lebih formal. Pada 2025, Bahasa Indonesia resmi menjadi salah satu bahasa yang diajarkan dalam struktur Fakultas Bahasa dan Terjemah Universitas Al-Azhar. Dengan demikian, pembelajarannya tidak lagi sebatas program atau kursus bahasa, tetapi berkembang menjadi program studi tersendiri pada jenjang pendidikan tinggi.

Rektor Universitas Al-Azhar, Salamah Daud, menyebut pembukaan program tersebut sebagai tambahan bagi bahasa-bahasa yang telah diajarkan di Fakultas Bahasa dan Terjemah. Ia juga menegaskan bahwa keberhasilan dan keberlanjutan program membutuhkan dukungan Indonesia, khususnya dalam penyediaan tenaga pengajar.

Target Awal 51 Mahasiswa, Pendaftar Mencapai 350 Orang

Salah satu fakta menarik dari pembukaan prodi ini adalah tingginya minat calon mahasiswa. Pada tahap awal, target penerimaan ditetapkan sebanyak 51 mahasiswa untuk tahun akademik 2025/2026. Namun, laporan berikutnya menyebut jumlah pendaftar mencapai sekitar 350 mahasiswa baru.

Angka tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran bahasa Indonesia memiliki daya tarik di lingkungan akademik Mesir. Kehadiran prodi ini juga membuka ruang bagi mahasiswa dari berbagai latar belakang untuk mempelajari bahasa sekaligus mengenal masyarakat, sejarah, dan kebudayaan Indonesia secara lebih mendalam.

Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia di Al-Azhar diarahkan bukan sekadar menjadi tempat mempelajari tata bahasa. Program ini juga diharapkan berkembang sebagai ruang pengenalan Indonesia melalui bahasa, sastra, sejarah, dan kebudayaan.

Pemerintah Indonesia bahkan mendorong agar keberadaan prodi tersebut dapat berkembang menjadi Indonesia Centre, yaitu pusat kajian Indonesia sekaligus wadah diplomasi budaya di kawasan Timur Tengah. Untuk mendukungnya, Kemendikdasmen menawarkan penguatan kerja sama berupa pertukaran mahasiswa dan dosen, pengiriman pengajar bahasa Indonesia, serta penyediaan buku dan literatur tentang Indonesia.

Kepala Badan Bahasa juga menyampaikan bahwa pemerintah menyiapkan penugasan pengajar, penyusunan modul, serta peningkatan kompetensi dosen untuk mendukung keberlangsungan program tersebut.

Memperkuat Diplomasi Bahasa dan Budaya

Pembukaan program studi ini memiliki dimensi yang lebih luas daripada kerja sama pendidikan. Bahasa menjadi salah satu instrumen diplomasi budaya yang memungkinkan masyarakat suatu negara mengenal negara lain secara langsung.

Bagi Indonesia, keberadaan Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Al-Azhar memperluas ruang penggunaan bahasa Indonesia di lingkungan akademik internasional. Terlebih, Al-Azhar memiliki jaringan mahasiswa dari berbagai negara dan hubungan historis yang kuat dengan Indonesia.

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Atip Latipulhayat menyebut bahasa Indonesia digunakan oleh lebih dari 275 juta penutur dan dipelajari di 57 negara. Ia menilai pembelajaran bahasa Indonesia di Al-Azhar relevan dengan hubungan panjang Indonesia dan Mesir serta keberadaan banyak mahasiswa Indonesia yang menempuh pendidikan di Al-Azhar.

Bahkan, pada September 2026, Imam Besar Al-Azhar Syekh Ahmad Al-Tayyeb kembali menyebut pembukaan jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia sebagai salah satu bentuk penguatan hubungan budaya dan keilmuan antara Al-Azhar dan Indonesia. Dalam pertemuan dengan Duta Besar RI untuk Mesir, Kuncoro Waseso, disebutkan bahwa program tersebut telah berjalan selama satu tahun akademik.

Dengan demikian, pembukaan Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Al-Azhar bukan sekadar penambahan satu program studi baru. Kehadirannya menjadi bagian dari perjalanan panjang pengajaran bahasa Indonesia di Mesir sekaligus membuka ruang baru bagi pendidikan, penelitian, pertukaran akademik, dan diplomasi budaya Indonesia di kawasan Timur Tengah.

Artikel Serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *