Kairo – Pada 26 Desember 2025, Rumah Mahasiswa Afwaja (RMA) Mesir melaksanakan kegiatan ziarah ke makam para ulama besar, sebuah perjalanan yang tidak sekadar fisik, tetapi juga intelektual dan spiritual. Ziarah ini menjadi upaya merawat ingatan keilmuan Islam sekaligus menumbuhkan adab kepada para pewaris ilmu Nabi.
Para ulama yang diziarahi bukan tokoh biasa. Mereka adalah pilar-pilar keilmuan yang membentuk wajah fikih, hadis, tasawuf, sirah, dan maqashid syariah hingga hari ini.
Ibnu ‘Atha’illah As-Sakandari: Nahkoda Samudra Tasawuf
Imam Ibnu ‘Atha’illah As-Sakandari (w. 709 H) dikenal sebagai tokoh utama Thariqah Syadziliyyah dan penulis legendaris Al-Ḥikam. Melalui kalimat-kalimat singkat namun menghujam, beliau mengajarkan tasawuf yang berakar kuat pada syariat.
Di tangannya, fikih tetap berjalan dan tasawuf tidak kehilangan arah. Ia adalah contoh ulama yang mampu mendamaikan lahir dan batin, hukum dan hikmah.
Kamal Ibnul Humam: Fikih yang Kritis dan Beradab
Imam Kamal Ibnul Humam (w. 861 H), fakih besar mazhab Hanafi, meninggalkan warisan monumental Fath al-Qadir. Karyanya menunjukkan bahwa fikih bukan sekadar hafalan, tetapi ruang dialog ilmiah yang rasional dan bertanggung jawab.
Beliau dikenal berani menimbang pendapat mazhab dengan jujur—menguatkan yang kuat, mengoreksi yang perlu—tanpa kehilangan adab.
Ibnu Daqiq al-‘Ied: Ketelitian sebagai Ibadah
Sebagai ulama lintas mazhab Syafi‘i dan Maliki, Ibnu Daqiq al-‘Ied (w. 702 H) masyhur karena kehati-hatian ilmiahnya. Kitab Iḥkām al-Aḥkām menjadi rujukan penting dalam fiqh al-hadits.
Prinsip beliau yang terkenal, bahwa diam kadang lebih ilmiah daripada bicara, menjadi pengingat bahwa keilmuan sejati lahir dari tanggung jawab, bukan ambisi.
Wali Shagir: Ulama yang Dikenal Langit
Syekh Wali Shagir (Waliyullah ash-Shaghir) mungkin tidak banyak tercatat dalam kitab-kitab besar, namun pengaruh spiritualnya hidup di tengah masyarakat. Ia adalah contoh ulama yang namanya lebih dikenal langit daripada bumi—dikenal bukan lewat tulisan, tetapi lewat akhlak dan keberkahan.
Ibnu Abi Jamrah: Hadis sebagai Cahaya
Imam Ibnu Abi Jamrah (w. 699 H), ulama Andalusia, memadukan hadis dan tasawuf dalam karya Bahjat an-Nufus, syarah ringkas Shahih Bukhari.
Bagi beliau, hadis bukan sekadar data tekstual, melainkan cahaya yang menyucikan jiwa dan menghidupkan hati.
Ibnu Sayyidinnas: Sirah untuk Membentuk Karakter
Sebagai murid Imam adz-Dzahabi, Ibnu Sayyidinnas (w. 734 H) menulis sirah Nabi melalui karya ‘Uyun al-Atsar dengan pendekatan kritis dan sistematis.
Sirah di tangannya bukan nostalgia sejarah, tetapi sarana pembentukan karakter umat.
Asy-Syathibi: Arsitek Maqashid Syariah
Imam Asy-Syathibi (w. 790 H) melalui Al-Muwafaqat meletakkan fondasi maqashid syariah—bahwa hukum Islam memiliki tujuan besar: keadilan, kemaslahatan, dan kemanusiaan.
Ia mengajarkan bahwa syariat akan tampak indah jika dibaca dengan akal yang jujur dan hati yang adil.
Ziarah sebagai Pengingat Arah
Salah satu mahasiswi RMA yang mengikuti ziarah, Vilia Sahla, menyampaikan kesannya secara mendalam:
“Ziarah ini membuat saya sadar bahwa ilmu bukan hanya soal pintar, tapi soal adab dan tanggung jawab. Para ulama yang kami ziarahi mengajarkan bahwa semakin tinggi ilmu, seharusnya semakin rendah hati.”
Ia menambahkan bahwa berdiri di dekat makam para ulama memberi perspektif baru tentang tujuan belajar di Al-Azhar: bukan sekadar mengejar gelar, tetapi melanjutkan amanah keilmuan.
Kegiatan ziarah RMA ini menjadi pengingat bahwa tradisi keilmuan Islam tidak lahir di ruang hampa. Ia tumbuh dari pengorbanan, kezuhudan, ketelitian, dan keikhlasan para ulama—jejak cahaya yang kini disusuri oleh generasi penerus.

