Ciamis (Afwaja) – Hubungan Indonesia dengan Universitas Al-Azhar Mesir telah terjalin erat sejak lama. Tidak hanya melalui ribuan mahasiswa Indonesia yang menimba ilmu di kampus tertua dunia Islam tersebut, tetapi juga melalui hubungan para ulama Indonesia dengan para Grand Syekh Al-Azhar. Salah satu sosok yang meninggalkan kesan mendalam bagi ulama Indonesia adalah Grand Syekh Al-Azhar Prof. Dr. Abdul Halim Mahmud, yang memimpin Al-Azhar pada periode 1970–1978.
Kesaksian para ulama Indonesia tentang beliau menunjukkan bahwa seorang pemimpin besar tidak hanya dihormati karena ilmunya, tetapi juga karena akhlak, kesederhanaan, dan ketulusannya dalam melayani umat.
Ulama Besar yang Menggabungkan Ilmu dan Tasawuf
Menurut KH Saifuddin Zuhri, mantan Sekretaris Jenderal PBNU yang pernah bertemu langsung dengan Syekh Abdul Halim Mahmud saat kunjungannya ke Indonesia pada tahun 1976, Grand Syekh Al-Azhar tersebut merupakan sosok yang memiliki kedalaman ilmu sekaligus kepribadian yang dihiasi nilai-nilai tasawuf. Sebelum menjadi Grand Syekh, ia juga dikenal sebagai pejabat negara yang bersih ketika menjabat Menteri Urusan Wakaf Mesir.
Pandangan serupa disampaikan oleh Prof. Dr. Quraish Shihab yang pernah menjadi murid beliau di Fakultas Ushuluddin Al-Azhar. Menurut Quraish Shihab, Syekh Abdul Halim Mahmud bahkan mendapat julukan “Imam Al-Ghazali Abad ke-14 Hijriah” karena keluasan ilmunya serta kedalaman pemahamannya terhadap pemikiran Imam Al-Ghazali.
Meski pernah menempuh pendidikan doktoral di Universitas Sorbonne, Prancis, dan hidup bertahun-tahun di tengah kehidupan modern Eropa, beliau tetap menjaga identitas keislamannya dengan sangat kuat. Pengaruh gemerlap kehidupan Barat tidak mengubah karakter spiritual dan kesederhanaannya.
Kesederhanaan Seorang Pemimpin Dunia Islam
Salah satu hal yang paling membekas dalam ingatan Quraish Shihab adalah kesederhanaan sang syekh. Walaupun menjabat sebagai pemimpin tertinggi Al-Azhar dan menjadi salah satu ulama paling berpengaruh di dunia Islam, beliau tetap hidup sederhana.
Quraish Shihab bahkan pernah menyaksikan langsung bagaimana gurunya itu menggunakan kendaraan umum untuk beraktivitas sehari-hari menuju fakultas. Sikap tersebut menunjukkan bahwa kemuliaan seseorang tidak terletak pada kemewahan hidupnya, melainkan pada ilmu dan akhlaknya.
Kesederhanaan inilah yang membuat banyak murid dan ulama semakin menghormatinya. Jabatan tinggi tidak menjadikannya jauh dari masyarakat maupun para pelajar.
Dalam pertemuannya dengan Syekh Abdul Halim Mahmud, KH Saifuddin Zuhri melihat sosok ulama yang selalu menampilkan wajah cerah dan penuh keramahan. Meskipun telah menempuh perjalanan jauh dan menerima banyak tamu, beliau tetap melayani setiap orang dengan penuh perhatian dan kesopanan.
Menurut Saifuddin Zuhri, cara beliau menyambut tamu membuat siapa pun merasa dihargai, seolah-olah telah lama mengenalnya. Sikap tersebut mencerminkan akhlak para ulama salaf yang tidak membedakan manusia berdasarkan kedudukan, kekayaan, ataupun status sosial.
Beliau juga dikenal sebagai pribadi yang gemar berdzikir. Saat menerima tamu, jemarinya sering bergerak memutar tasbih. Bagi Saifuddin Zuhri, pemandangan tersebut mengingatkannya pada tradisi para ulama pesantren yang memadukan aktivitas intelektual dengan kedekatan spiritual kepada Allah SWT.
Keistimewaan lain Syekh Abdul Halim Mahmud adalah kemampuannya memadukan rasionalitas dan spiritualitas. Walaupun dikenal sebagai pengamal tasawuf yang mendalam, beliau juga aktif menjelaskan ajaran Islam dengan pendekatan ilmiah dan argumentasi yang rasional.
Karena kemampuannya menjelaskan Islam secara logis tanpa meninggalkan nilai-nilai spiritual, beliau mendapat pengakuan luas dari berbagai kalangan dan akhirnya dipercaya memimpin Al-Azhar sebagai Imam Akbar atau Grand Syekh Al-Azhar.
Karakter inilah yang menjadikan beliau sebagai teladan penting bagi dunia Islam modern: seorang ulama yang teguh menjaga tradisi keilmuan klasik, namun tetap mampu berdialog dengan perkembangan zaman.
Warisan Keteladanan bagi Generasi Muslim
Ketika Syekh Abdul Halim Mahmud wafat pada tahun 1978, banyak tokoh Islam Indonesia menyampaikan penghormatan mendalam atas jasa-jasa beliau. Salah satunya adalah KH Ahmad Syaikhu yang menyebutnya sebagai ulama besar dan tokoh kemanusiaan yang mengabdikan hidupnya untuk kemaslahatan umat.
Kisah-kisah yang disampaikan oleh KH Saifuddin Zuhri dan Prof. Quraish Shihab menunjukkan bahwa kebesaran seorang ulama tidak hanya diukur dari banyaknya karya ilmiah atau tingginya jabatan yang diraih. Lebih dari itu, kebesaran sejati lahir dari perpaduan antara ilmu yang mendalam, akhlak yang mulia, kesederhanaan hidup, serta pengabdian yang tulus kepada umat.
Keteladanan inilah yang membuat nama Syekh Abdul Halim Mahmud tetap dikenang hingga hari ini, tidak hanya di Mesir, tetapi juga di Indonesia, negeri yang memiliki hubungan sejarah dan keilmuan yang begitu erat dengan Al-Azhar. (Sumber: NU Online).


