Simposium PPI Dunia di Kairo Soroti Kontribusi Diaspora Indonesia di Dalam dan Luar Negeri

Mentri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon d panggung simposium PPI Dunia di Kairo, Foto: Instagram/@ppidunia
Mentri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon d panggung simposium PPI Dunia di Kairo, Foto: Instagram/@ppidunia

KAIRO, MESIR – Peran diaspora Indonesia dalam mendukung kepentingan nasional menjadi salah satu isu yang dibahas dalam Simposium Internasional XVIII Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Dunia yang berlangsung di Al-Azhar Conference Center (ACC), Kairo, Mesir, pada 19 September 2026. Forum tersebut mempertemukan perwakilan pelajar Indonesia dari berbagai negara sekaligus menjadi ruang untuk membicarakan kontribusi pelajar dan diaspora Indonesia, baik di dalam maupun luar negeri.

Salah satu pembahasan yang mengemuka adalah mengenai pilihan diaspora untuk kembali ke tanah air atau tetap berkontribusi dari luar negeri. Kedua hal tersebut dinilai tidak harus dipertentangkan karena masing-masing memiliki ruang dan bentuk kontribusi yang berbeda bagi kepentingan Indonesia.

Perwakilan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Kairo, Kuncoro Giri Waseso, mengatakan bahwa pemerintah memandang kedua bentuk kontribusi tersebut sebagai bagian dari kepentingan nasional.

“Kita memilih dua-duanya,” ujar Kuncoro dalam wawancara di sela-sela kegiatan.

Menurutnya, dalam kondisi tertentu Indonesia membutuhkan tenaga dengan keahlian dan kompetensi khusus yang dimiliki oleh diaspora. Dalam situasi tersebut, kepulangan diaspora ke tanah air dapat menjadi bentuk kontribusi langsung terhadap pembangunan nasional.

Namun, keberadaan diaspora di luar negeri juga memiliki nilai strategis. Dengan tetap mengembangkan kemampuan, pengalaman, dan jejaring internasional, diaspora dapat membantu memperluas hubungan Indonesia dengan berbagai pihak di tingkat global.

“Ada kalanya banyak di antara diaspora itu sangat bermanfaat berada di luar negeri. Kita perlu mendorong mereka mengembangkan bakat dan jejaringnya, karena kepentingan nasional kita tidak hanya terbatas pada skala domestik, tetapi juga mencakup panggung internasional,” kata Kuncoro.

Pembahasan mengenai peran pelajar Indonesia di luar negeri juga mendapat perhatian dari Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, yang hadir dan memberikan panel speech dalam simposium tersebut. Dalam kesempatan itu, Fadli menyoroti posisi strategis pelajar Indonesia dalam memperkuat diplomasi pengetahuan dan kebudayaan di tingkat global.

Menurut Fadli, pelajar Indonesia yang berada di luar negeri tidak hanya berperan sebagai mahasiswa, tetapi juga dapat menjadi penghubung antara Indonesia dengan lingkungan internasional. Ia menyebut terdapat lima peran strategis PPI Dunia, yaitu Knowledge Connector, Institution Connector, penggerak Brain Circulation, Cultural Intelligence Contributor, dan Ecosystem Builder.

“Posisi pelajar sangat strategis. Pelajar adalah kurator narasi Indonesia, penghubung dan pembangun ekosistem, serta penggerak jejaring pendidikan dan kebudayaan. Pelajar juga memiliki akses terhadap pengetahuan, konteks lokal, dan jejaring yang sering kali tidak dapat dibangun melalui jalur formal. Lima peran strategis tersebut merupakan bekal Indonesia pada tingkat jejaring global,” ujar Fadli.

Fadli juga menekankan pentingnya inventarisasi, riset, dan pelindungan kebudayaan sebagai dasar untuk mengembangkan kekayaan budaya Indonesia menjadi kekuatan produktif. Menurutnya, pelajar Indonesia di luar negeri memiliki ruang strategis untuk memperkenalkan budaya Nusantara sekaligus membangun jejaring yang dapat mendukung perkembangan ekonomi budaya dan diplomasi Indonesia.

Agenda tersebut turut dihadiri oleh Duta Besar RI untuk Republik Arab Mesir Kuncoro Giri Waseso, Koordinator PPI Dunia 2025–2026 Andika Ibrahim Nasution beserta jajaran pengurus PPI Dunia, serta delegasi dari 68 PPI negara. Sejumlah pejabat Kementerian Kebudayaan juga hadir dalam kegiatan tersebut.

Pembahasan mengenai diaspora juga tidak hanya ditujukan kepada mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di luar negeri. Menurut Kuncoro, masyarakat Indonesia yang berada di luar negeri, termasuk Pekerja Migran Indonesia (PMI), juga merupakan bagian dari ekosistem diaspora yang memiliki kontribusi masing-masing.

Penyelenggaraan simposium di Mesir turut memiliki makna historis. Kairo tidak hanya dipilih sebagai tempat berlangsungnya agenda PPI Dunia, tetapi juga menjadi momentum untuk mengingat kembali peran pelajar Indonesia dalam sejarah diplomasi pada masa awal kemerdekaan.

Sejarah mencatat bahwa para pelajar dan mahasiswa Indonesia di Mesir pernah mengambil bagian dalam memperkenalkan serta memperjuangkan kepentingan Republik Indonesia. Mereka membangun komunikasi dengan berbagai pihak, mulai dari tokoh politik, media, hingga pemerintah Mesir. Upaya tersebut menjadi bagian dari perjuangan diplomasi yang kemudian berkontribusi pada diperolehnya pengakuan de jure terhadap kemerdekaan Indonesia dari pemerintah Mesir.

“Dahulu, para pelajar Indonesia di Mesir berjuang mendekati tokoh politik, media, dan pemerintah Mesir hingga Indonesia memperoleh pengakuan kemerdekaan,” tutur Kuncoro.

Jejak sejarah tersebut menjadi relevan bagi generasi pelajar Indonesia yang kini tersebar di berbagai negara. Pengalaman para pendahulu menunjukkan bahwa keberadaan mahasiswa di luar negeri tidak hanya berkaitan dengan aktivitas akademik, tetapi juga dapat menjadi bagian dari upaya membangun hubungan Indonesia dengan masyarakat internasional.

Simposium Internasional XVIII PPI Dunia diharapkan tidak berhenti sebagai forum pertukaran gagasan. Pertemuan tersebut juga menjadi ruang untuk memperkuat jejaring diaspora Indonesia dan menghubungkannya dengan berbagai kepentingan pembangunan nasional.

Dengan demikian, kontribusi diaspora tidak selalu harus diwujudkan melalui kepulangan ke tanah air. Dalam konteks tertentu, meningkatkan kapasitas diri, memperluas jejaring, serta mengambil peran di lingkungan internasional juga dapat menjadi bentuk kontribusi bagi Indonesia. Sejarah diplomasi pelajar Indonesia di Mesir menjadi salah satu contoh bahwa kiprah masyarakat Indonesia di luar negeri dapat memberikan dampak bagi kepentingan bangsa, baik melalui kontribusi langsung di tanah air maupun melalui peran di panggung internasional.

Sumber : Perdana Media, Detik.com

Artikel Serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *