Ciamis (Afwaja) – Menuntut ilmu di Mesir menjadi perjalanan yang membuka banyak ruang bagi mahasiswa untuk berkembang, tidak hanya dalam bidang akademik, tetapi juga dalam berbagai keterampilan dan minat. Hal itu pula yang dijalani Geisla Fayza, mahasiswi Universitas Al-Azhar asal Pangandaran, Jawa Barat, yang memiliki ketertarikan pada dunia jurnalistik dan kepenulisan.
Geisla merupakan kader Afwaja Center angkatan pertama. Sebelum melanjutkan pendidikan ke Mesir, ia menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Miftahul Anwar Dampasan. Latar belakang pendidikan pesantren menjadi salah satu bekal dalam perjalanan keilmuannya sebelum kemudian melanjutkan studi di Universitas Al-Azhar, Kairo.
Kurang lebih dua tahun telah dijalani Geisla sebagai mahasiswa Al-Azhar. Selama berada di Mesir, ia tidak hanya berfokus pada kegiatan akademik, tetapi juga berusaha mengembangkan berbagai minat dan keterampilan yang dimilikinya. Salah satu bidang yang terus ia tekuni adalah jurnalistik dan kepenulisan.
Bagi Geisla, menulis menjadi ruang untuk mengolah gagasan, menyampaikan informasi, sekaligus mengabadikan berbagai pengalaman selama menjalani kehidupan sebagai mahasiswa di Mesir. Ketertarikan tersebut mendorongnya untuk aktif mencari ruang belajar dan berdiskusi mengenai dunia kepenulisan.
Salah satu ruang yang ia ikuti adalah Manggala KPMJB, wadah kepenulisan bagi mahasiswa Al-Azhar asal Jawa Barat. Geisla kerap mengikuti kelas-kelas kepenulisan yang diselenggarakan oleh Manggala KPMJB. Melalui kegiatan tersebut, ia berkesempatan mengasah kemampuan menulis sekaligus bertemu dengan mahasiswa lain yang memiliki ketertarikan serupa.
Di tengah kesibukannya sebagai mahasiswa dan menekuni dunia kepenulisan, Geisla juga sebagai musyrif atau pembimbing Afwaja Center Mesir. Peran tersebut membuatnya tidak hanya menjalani proses belajar untuk dirinya sendiri, tetapi juga turut mendampingi dan membimbing para pelajar yang berada dalam lingkungan Afwaja Center.
Sebagai musyrif, Geisla turut mengambil bagian dalam proses pendampingan dan pembinaan pelajar Afwaja Center. Pengalaman tersebut menjadi ruang baginya untuk belajar mengenai tanggung jawab, komunikasi, serta kehidupan berorganisasi. Peran ini sekaligus menjadi bentuk kontribusinya sebagai kader Afwaja Center.
Perjalanan Geisla menunjukkan bahwa kehidupan sebagai mahasiswa Al-Azhar dapat menjadi ruang untuk mengembangkan lebih dari sekadar kemampuan akademik. Pendidikan, kepenulisan, dan pengabdian menjadi bagian yang berjalan beriringan dalam kesehariannya.
Dengan terus mengikuti ruang belajar kepenulisan dan menjalankan peran sebagai musyrif, Geisla berusaha menjadikan masa studinya di Al-Azhar sebagai perjalanan untuk memperoleh ilmu, mengembangkan keterampilan dan menghasilkan karya.


