Kairo (Afwaja) – Sekolah Kader Afwaja (SKA) terus memberikan pembekalan kepada para kader melalui berbagai materi yang berkaitan dengan kehidupan sebagai pelajar dan mahasiswa Indonesia di Mesir. Tidak hanya membahas organisasi dan ke-Afwaja-an, rangkaian SKA juga menghadirkan materi pembinaan dan kesehatan sebagai bekal bagi para kader dalam menjalankan peran di lingkungan Afwaja Center.
Pada Sabtu, 22 Agustus 2026, SKA menghadirkan Ustadzah Damae Wardani selaku pembina Rumah Hiwar. Dalam kesempatan tersebut, peserta mendapatkan materi mengenai bagaimana menjadi seorang pembina yang baik, khususnya dalam mendampingi santri yang berada pada masa remaja dan perkembangan diri.
Ustadzah Damae menjelaskan bahwa menjadi pembina membutuhkan kemampuan untuk mengenali karakter setiap santri. Para santri merupakan individu yang sedang bertumbuh dan memiliki karakter yang berbeda-beda. Karena itu, seorang pembina perlu memahami kebutuhan serta pola pendampingan yang sesuai dengan masing-masing santri.
Selain memahami santri, pembina juga perlu membangun hubungan yang baik dengan wali santri. Wali santri tidak hanya diposisikan sebagai pihak yang menerima laporan perkembangan, tetapi juga sebagai partner dalam mendukung pertumbuhan santri. Sinergi tersebut dapat dilakukan melalui komunikasi, berbagi pengalaman, hingga kolaborasi dalam menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi santri.
Menjadi pembina juga tidak berarti harus selalu tampil sempurna. Seorang pembina tetap dapat melakukan kesalahan. Namun, yang terpenting adalah memiliki kemauan untuk mengakui kesalahan, belajar, memperbaiki diri, dan terus hadir untuk mendampingi para santri.
Materi selanjutnya membahas kesehatan yang disampaikan oleh Ustadzah Rahma Nabila, mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Al-Azhar, pada 7 September 2026.
Dalam materi tersebut, peserta diajak memahami pentingnya menjaga kesehatan selama menjalani kehidupan di Mesir. Sebagai warga Indonesia yang tinggal di lingkungan dengan kondisi berbeda, para pelajar dan mahasiswa perlu beradaptasi dengan pola hidup, pola makan, serta pola tidur yang berlaku di lingkungan sekitar.
Kondisi cuaca yang ekstrem di Mesir juga menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan. Perubahan dan kondisi cuaca dapat memengaruhi kondisi tubuh sehingga mahasiswa perlu memiliki kebiasaan hidup yang mendukung kesehatan.
Melalui materi tersebut, peserta diingatkan bahwa produktivitas tidak berarti harus mengorbankan kesehatan. Menjaga tubuh merupakan bagian dari amanah agar seseorang tetap memiliki kemampuan untuk belajar, berdakwah, berkarya, dan memberikan manfaat bagi orang lain.
Rangkaian materi pembinaan dan kesehatan tersebut menunjukkan bahwa kaderisasi tidak hanya berorientasi pada kemampuan akademik maupun organisasi. Para kader juga dibekali kemampuan untuk mendampingi orang lain sekaligus menjaga dirinya sendiri selama menjalani kehidupan sebagai pelajar di Mesir.


