Kairo – Rumah Mahasiswa Afwaja (RMA) Mesir menggelar agenda wajib tahunan berupa ziarah ke makam para tokoh dan ulama besar Al-Azhar. Kegiatan yang berlangsung pada Jum’at, 31 Oktober 2025, pukul 13.00 bada Jum’atan, ini dipimpin langsung oleh para pembimbing RMA. Seluruh peserta berkumpul di samping Mustasyfa Al-Husain, Darrasah, sebelum memulai perjalanan menapaktilasi jejak para mujawirin yang telah berjasa menyebarkan ilmu di dunia Islam.
Ziarah ini bukan sekadar perjalanan spiritual, tetapi juga menjadi sarana untuk memperdalam sejarah intelektual Al-Azhar, mengenang warisan keilmuan, serta menumbuhkan kedekatan emosional para mahasiswa dengan para ulama yang selama ini mereka pelajari kitab-kitabnya.
Menapak Jejak Para Grand Syekh dan Ulama Besar
Destinasi ziarah mencakup lebih dari sepuluh makam ulama penting, mulai dari Grand Syekh pertama Al-Azhar, Syekh Muhammad Al-Kharasyi, hingga Syekh Muhammad Muhammad Al-Ahmadi Al-Zhawahiri (Grand Syekh ke-32). Beberapa tokoh yang diziarahi antara lain:
- Syekh Ahmad Al-Damhuji (Grand Syekh ke-15)
- Syekh Abdullah Al-Syarqawi (Grand Syekh ke-12)
- Syekh Al-Damanhuri (Grand Syekh ke-10)
- Syekh Muhammad Salim Al-Hifni (Grand Syekh ke-8)
- Syekh Muhammad Abduh
- Syekh Ibrahim Al-Bajuri (Grand Syekh ke-19)
- Imam Al-Khatib Muhammad Al-Syirbini
- Syekh Athiyah Al-Ujhuri
- dan ulama besar lainnya.
Setiap makam memiliki kisah dan kontribusi tersendiri, yang disampaikan langsung oleh pembimbing di sepanjang perjalanan.
Pembimbing: “Ziarah ini pengingat bahwa ilmu memiliki silsilah.”
Salah satu pembimbing RMA yang memimpin rombongan menegaskan bahwa kegiatan ini memiliki nilai penting bagi para mahasiswa. Menurutnya, memahami ilmu tidak cukup hanya dari teks, tetapi juga memerlukan penghormatan terhadap para pewaris tradisi keilmuan.
“Kami ingin para mahasiswa merasakan langsung bahwa perjalanan ilmu itu bersambung. Para ulama yang mereka ziarahi inilah yang menjadi mata rantai keilmuan Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Ziarah seperti ini menguatkan rasa hormat, adab, dan kesadaran bahwa ilmu memiliki silsilah,” jelas sang pembimbing.
Ia juga menambahkan bahwa ziarah dapat menumbuhkan motivasi belajar, terutama bagi para mahasiswa baru yang sedang memulai perjalanan akademiknya di Mesir.
Vilia, salah satu santri Afwaja Center yang tinggal di RMA, mengaku terkesan dan bersyukur dapat mengikuti kegiatan ini. Baginya, ziarah bukan hanya rutinitas, tetapi pengalaman yang menguatkan niat belajar.
“Saya senang sekali bisa berziarah ke makam para ulama. Ada rasa haru ketika berdiri di dekat makam orang-orang yang ilmunya masih kita pelajari sampai sekarang. Rasanya seperti ikut menyambung langkah mereka,” ungkapnya.
“Ziarah ini seperti pengingat bahwa mencari ilmu itu bukan hanya tentang akademik, tapi juga soal keberkahan,” tambahnya.
Vilia mengaku pengalaman ini membuatnya semakin bersemangat melanjutkan perkuliahan serta memperdalam kitab-kitab klasik yang selama ini dia pelajari di Afwaja Center.
Agenda Tahunan yang Menjadi Identitas RMA
Ziarah ulama menjadi agenda wajib keluarga besar RMA. Selain memperkuat spiritualitas, kegiatan ini juga menjadi ajang mempererat kebersamaan antaranggota, sekaligus menanamkan nilai adab yang menjadi fondasi utama dalam tradisi belajar di Al-Azhar.
Bagi para mahasiswa yang tinggal jauh dari tanah air, kegiatan semacam ini menjadi momen untuk kembali menata niat, menyambungkan diri dengan sanad keilmuan, serta merasakan kedekatan dengan para ulama yang menjadi simbol keagungan ilmu di dunia Islam.
Dengan berakhirnya rangkaian ziarah tersebut, para mahasiswa pulang dengan kesan mendalam—bahwa mencari ilmu bukan hanya tentang membaca dan menghadiri kuliah, tetapi juga menjaga hubungan spiritual dengan para pendahulu yang telah mengabdikan hidup mereka untuk ilmu.


