Ciamis (Afwaja) – Syekh Yusri Rusydi Jabr Al-Hasani merupakan salah satu ulama terkemuka asal Mesir yang memiliki perjalanan keilmuan menarik. Beliau dikenal sebagai seorang dokter ahli bedah sekaligus ulama yang mendalami berbagai disiplin ilmu keislaman, khususnya hadis, fikih, dan tasawuf. Perpaduan latar belakang pendidikan kedokteran dan keagamaan menjadikan beliau sosok yang istimewa dalam dunia keilmuan Islam kontemporer.
Beliau lahir dengan nama lengkap Yusri Rusydi al-Sayyid Jabr al-Hasani pada 23 September 1954 di kawasan Rawd al-Farag, Kairo, Mesir. Nasabnya disebut bersambung hingga Sayyidina Hasan bin Ali bin Abi Thalib, cucu Rasulullah SAW. Dalam bidang akidah, beliau berpegang pada mazhab Sunni Asy’ari, sedangkan dalam bidang fikih mengikuti mazhab Syafi’i.
Perjalanan pendidikan Syekh Yusri dimulai melalui pendidikan umum sebelum akhirnya diterima sebagai mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kairo. Beliau berhasil menyelesaikan pendidikan sarjananya pada Desember 1978 dengan predikat Jayyid Jiddan (sangat baik). Kecintaannya terhadap dunia kedokteran kemudian mengantarkannya melanjutkan pendidikan magister dalam bidang bedah umum dan bedah vaskular pada 1983. Tidak berhenti di sana, beliau kembali menyelesaikan pendidikan doktoral dalam bidang bedah umum pada 1991 di universitas yang sama. Pada 2004, beliau memperoleh gelar profesor dalam bidang bedah.
Di tengah kesibukannya menempuh pendidikan kedokteran, Syekh Yusri tetap menunjukkan kecintaan yang besar terhadap ilmu-ilmu keislaman. Beliau secara konsisten menghadiri majelis-majelis ilmu dan berguru kepada sejumlah ulama terkemuka. Bahkan, setelah menyelesaikan pendidikan doktoralnya di bidang kedokteran, beliau kembali menempuh pendidikan formal di Universitas Al-Azhar, Fakultas Syariah dan Hukum, jurusan Syariah Islamiyah. Pendidikan tersebut diselesaikannya pada 1998 dengan predikat Jayyid Jiddan.
Dalam perjalanan keilmuannya, Syekh Yusri berguru kepada sejumlah ulama besar, di antaranya Syekh Muhammad Hafiz al-Tijani, Syekh Muhammad Najib al-Muthi’i, Syekh Abdullah bin Shiddiq al-Ghumari, Syekh Muhammad Zakki Ibrahim, dan beberapa ulama lainnya. Di antara pengalaman penting dalam perjalanan intelektualnya adalah ketika mempelajari kitab Al-Muwaththa’ karya Imam Malik selama dua tahun, yakni pada 1976–1978, di bawah bimbingan Syekh Muhammad Hafiz al-Tijani.
Ketekunannya dalam mempelajari ilmu hadis juga terlihat dari aktivitas pengajaran berbagai kitab hadis. Beliau mengajarkan sejumlah kitab induk hadis, di antaranya Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan al-Tirmidzi, Sunan al-Nasa’i, dan Sunan Ibnu Majah. Selain itu, beliau juga mengajarkan kitab Al-Syama’il al-Muhammadiyyah karya Imam al-Tirmidzi. Aktivitas tersebut menjadikan Syekh Yusri dikenal luas sebagai salah satu ulama yang memiliki perhatian besar terhadap tradisi periwayatan dan pengkajian hadis.
Tidak hanya mendalami hadis, beliau juga menaruh perhatian besar terhadap Al-Qur’an. Syekh Yusri mulai menghafalkan Al-Qur’an dengan riwayat Hafsh dari Ashim ketika masih menjadi mahasiswa kedokteran. Proses menghafalnya diselesaikan pada 1985 di bawah bimbingan Syekh Abdul Hakim Khathir. Hal ini menunjukkan kesungguhannya dalam menjaga keseimbangan antara pendidikan formal, pengembangan keilmuan, dan tradisi talaqqi kepada para ulama.
Selain dikenal sebagai dokter dan pengajar ilmu-ilmu keislaman, Syekh Yusri juga merupakan mursyid Tarekat Yusriyyah Shiddiqiyyah Syadziliyyah di Mesir. Beliau mengambil Tarekat Shiddiqiyyah Syadziliyyah melalui Syekh Abdullah bin Shiddiq al-Ghumari. Melalui majelis-majelis keilmuannya, beliau membimbing para penuntut ilmu dalam mempelajari berbagai disiplin keislaman, mulai dari hadis, fikih, akidah, hingga tasawuf.
Nama Syekh Yusri semakin dikenal di kalangan masyarakat Indonesia setelah kehadirannya dalam Muktamar Sufi Internasional yang diselenggarakan di Pekalongan pada Agustus 2023. Dalam kesempatan tersebut, beliau hadir bersama sejumlah ulama dari berbagai negara dan menyampaikan pesan mengenai pentingnya persatuan ulama serta pengembangan pendidikan dan tasawuf.
Perjalanan hidup Syekh Yusri Al-Hasani memberikan gambaran bahwa keluasan ilmu dapat dibangun melalui kesungguhan dan kedisiplinan dalam belajar. Beliau tidak hanya menekuni satu bidang keilmuan, tetapi juga menunjukkan bahwa ilmu kedokteran dan ilmu agama dapat berjalan beriringan. Dari ruang pendidikan kedokteran Universitas Kairo hingga majelis-majelis keilmuan Al-Azhar, perjalanan beliau menjadi inspirasi bagi para penuntut ilmu untuk senantiasa mencintai ilmu, menghormati guru, dan mengabdikan pengetahuan bagi kemaslahatan umat.
Sumber : NU Online, Arrahim.ID, UNKAFA


