Ciamis (Afwaja) – Universitas Al-Azhar di Kairo, Mesir, merupakan salah satu lembaga pendidikan Islam tertua dan paling berpengaruh di dunia. Selama berabad-abad, Al-Azhar menjadi pusat ilmu pengetahuan Islam dan melahirkan ulama-ulama besar yang berkontribusi bagi peradaban dunia. Namun, tidak banyak yang mengetahui bahwa pada akhir dekade 1950-an, lembaga bersejarah ini pernah berada di ambang penutupan. Dalam sebuah kisah yang kemudian banyak diceritakan oleh ulama Mesir, Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, disebut memiliki peran penting dalam menggagalkan rencana tersebut.
Rencana Gamal Abdul Nasser Menutup Al-Azhar
Pasca Revolusi Mesir 1952, Presiden Gamal Abdel Nasser berupaya melakukan modernisasi besar-besaran terhadap berbagai institusi negara. Dalam proses tersebut, ia mempertimbangkan berbagai langkah reformasi, termasuk terhadap Al-Azhar yang saat itu dinilai perlu mengalami perubahan mendasar. Menurut penuturan mantan Mufti Agung Mesir, Ali Gomaa, Nasser bahkan sempat berpikir untuk menutup Al-Azhar dan menggantinya dengan lembaga lain yang dianggap lebih sesuai dengan visi pembangunan Mesir saat itu.
Rencana tersebut dilatarbelakangi keinginan pemerintah Mesir untuk melakukan restrukturisasi berbagai institusi nasional. Selain itu, hubungan yang kurang harmonis antara sebagian kalangan ulama dan pemerintah juga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi munculnya gagasan tersebut.
Soekarno Menolak Gagasan Penutupan
Dalam salah satu pertemuan persahabatan antara Soekarno dan Nasser, Presiden Indonesia itu mendengar rencana penutupan Al-Azhar. Mendengar hal tersebut, Soekarno terkejut dan langsung menyampaikan keberatannya.
Menurut kisah yang dituturkan Syekh Ali Gomaa, Soekarno bertanya kepada Nasser mengapa Al-Azhar harus ditutup. Ia kemudian mengingatkan sahabatnya itu bahwa dunia Islam mengenal Mesir salah satunya karena keberadaan Al-Azhar. Bahkan, menurut Soekarno, hubungan keilmuan, budaya, dan keagamaan antara Indonesia dan Mesir selama berabad-abad terjalin melalui lembaga tersebut.
Soekarno lalu mengibaratkan Al-Azhar sebagai simbol peradaban Mesir yang tak tergantikan. Ia mempertanyakan apakah Mesir juga akan menutup Sungai Nil atau menghilangkan Piramida yang menjadi identitas negaranya. Bagi Soekarno, menutup Al-Azhar sama saja dengan menghilangkan salah satu kekuatan terbesar Mesir di mata dunia.
Al-Azhar Sebagai Jembatan Indonesia dan Mesir
Pandangan Soekarno tidak lahir tanpa alasan. Sejak awal abad ke-20, banyak pelajar Indonesia menuntut ilmu di Al-Azhar. Dari kampus inilah lahir berbagai tokoh ulama dan pemikir yang kemudian berperan dalam perkembangan Islam di Nusantara.
Soekarno memahami bahwa bagi masyarakat Indonesia, nama Mesir sangat erat kaitannya dengan Al-Azhar. Jika lembaga tersebut ditutup, maka Mesir akan kehilangan salah satu instrumen diplomasi budaya dan keilmuan yang paling berpengaruh di dunia Islam. Karena itu, Soekarno menilai rencana tersebut bukan hanya keliru, tetapi juga berbahaya bagi masa depan Mesir.
Dari Rencana Penutupan Menjadi Reformasi Al-Azhar
Nasihat Soekarno ternyata mendapat perhatian serius dari Nasser. Alih-alih menutup Al-Azhar, pemerintah Mesir kemudian mengambil langkah berbeda, yakni memperkuat dan mengembangkan institusi tersebut.
Beberapa tahun kemudian lahirlah Undang-Undang Nomor 103 Tahun 1961 yang menjadi tonggak modernisasi Al-Azhar. Melalui regulasi ini, Al-Azhar diperluas perannya dan tidak hanya fokus pada studi keislaman, tetapi juga membuka berbagai fakultas modern seperti kedokteran, teknik, pertanian, dan ilmu-ilmu lainnya. Dalam undang-undang tersebut ditegaskan pula bahwa Al-Azhar merupakan rujukan dunia Islam, bukan hanya milik Mesir semata.
Selain itu, pemerintah Mesir juga mendirikan berbagai lembaga pendukung dakwah dan pendidikan Islam, termasuk Majelis Tinggi Urusan Islam, Majalah Mimbar Islam, serta Radio Al-Qur’an Al-Karim yang hingga kini masih dikenal luas.
Kisah ini menunjukkan bahwa hubungan Indonesia dan Mesir tidak hanya dibangun melalui jalur politik dan diplomasi formal, tetapi juga melalui kepedulian terhadap ilmu pengetahuan dan peradaban Islam. Persahabatan antara Soekarno dan Nasser menjadi salah satu contoh bagaimana dialog antarpemimpin dapat menghasilkan keputusan yang berdampak besar bagi dunia.
Hingga kini, kisah peran Soekarno dalam menyelamatkan Al-Azhar masih sering diceritakan oleh para ulama dan akademisi Mesir sebagai bentuk penghormatan terhadap Presiden pertama Indonesia. Meskipun sejumlah sejarawan menilai kisah ini lebih banyak bersumber dari kesaksian Syekh Ali Gomaa dan belum didukung dokumen resmi yang lengkap, cerita tersebut tetap menjadi bagian penting dari memori hubungan Indonesia-Mesir dan kedudukan istimewa Al-Azhar di mata umat Islam Indonesia.


