Ciamis (Afwaja) – Hubungan Al-Azhar Kairo dengan Indonesia tidak hanya terjalin melalui hubungan pendidikan, tetapi juga melalui jejak panjang para pelajar Nusantara yang menuntut ilmu di Mesir, kemudian kembali membawa pengetahuan dan mengabdikan diri untuk bangsa.
Selama bertahun-tahun, Al-Azhar telah menjadi salah satu pusat pendidikan Islam yang melahirkan ulama, intelektual, pendidik, hingga tokoh nasional Indonesia. Mereka datang ke Kairo untuk belajar, lalu pulang ke tanah air untuk menghidupkan pendidikan, mengembangkan pemikiran Islam, dan mengambil bagian dalam perjalanan bangsa.
Prof. Mahmud Yunus, Pembangun Fondasi Pendidikan Islam
Salah satu nama penting adalah Prof. Dr. Mahmud Yunus. Setelah menyelesaikan pendidikan di Al-Azhar, ia melanjutkan studi di Darul Ulum, Mesir. Sepulang ke Indonesia, ia menjadi salah satu tokoh penting dalam pembaruan pendidikan Islam.
Mahmud Yunus tidak hanya mengajar, tetapi juga terlibat dalam pembangunan sistem pendidikan Islam. Ia pernah menjadi Rektor pertama Akademi Dinas Ilmu Agama (ADIA) yang kemudian menjadi bagian dari sejarah berdirinya IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Ia juga menghasilkan banyak karya, termasuk Tafsir Qur’an Karim, serta berkontribusi dalam pengembangan pengajaran bahasa Arab dan pendidikan agama.
Melalui Mahmud Yunus, ilmu Al-Azhar menjelma menjadi lembaga, kurikulum, buku, dan generasi pendidik yang terus memberikan pengaruh hingga hari ini.
M. Quraish Shihab, Tokoh Tafsir Al-Qur’an Nusantara
Jika Mahmud Yunus banyak mewarnai dunia pendidikan, Prof. Dr. M. Quraish Shihab memberikan pengaruh besar dalam perkembangan kajian Al-Qur’an di Indonesia.
Quraish Shihab menempuh pendidikan di Al-Azhar sejak usia muda hingga memperoleh gelar doktor dalam bidang tafsir. Setelah kembali ke Indonesia, ia aktif sebagai akademisi, ulama, penulis, dan tokoh publik. Salah satu karya monumentalnya adalah Tafsir Al-Mishbah, yang menjadi salah satu karya tafsir Indonesia kontemporer yang banyak dipelajari masyarakat. (
Pengaruhnya tidak hanya terlihat melalui karya-karyanya, tetapi juga melalui kontribusinya dalam mengembangkan studi tafsir di lingkungan akademik Indonesia. Ia berusaha menghadirkan Al-Qur’an dalam bahasa yang dekat dengan persoalan kehidupan masyarakat.
Alwi Shihab, Diplomat ulung Indonesia
Jejak alumni Al-Azhar juga hadir dalam dunia pemerintahan dan diplomasi melalui Prof. Dr. Alwi Shihab. Pendidikan dan pengalaman intelektualnya menjadi bekal dalam perjalanan pengabdiannya di Indonesia. Ia kemudian dipercaya menduduki sejumlah posisi penting, termasuk sebagai Menteri Luar Negeri Republik Indonesia pada 1999–2001. Pemerintah Indonesia juga mencatat Alwi Shihab sebagai salah satu tokoh nasional yang merupakan alumni Al-Azhar.
Kiprahnya memperlihatkan bahwa ilmu yang diperoleh dari Al-Azhar tidak terbatas pada bidang keagamaan. Wawasan keislaman dan intelektual juga dapat menjadi bekal untuk berkontribusi dalam diplomasi dan hubungan antarbangsa.
Gus Dur dan Gus Mus, Ilmu, Kebangsaan, dan Pesantren
Jejak alumni Al-Azhar dalam perjalanan bangsa juga dapat ditemukan pada sosok KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan KH. Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus). Keduanya disebut sebagai bagian dari tokoh Indonesia yang pernah belajar di Al-Azhar.
Gus Dur kemudian menjadi Presiden Republik Indonesia keempat. Pemikirannya banyak memberikan warna terhadap kehidupan demokrasi, pluralitas, dan hubungan antara Islam dengan kebangsaan.
Sementara itu, Gus Mus dikenal sebagai ulama, pengasuh pesantren, budayawan, dan penulis. Melalui dakwah dan karya-karyanya, ia turut menghadirkan wajah Islam yang dekat dengan tradisi, kebudayaan, dan kehidupan masyarakat Indonesia.
Keduanya menunjukkan bahwa kontribusi alumni Al-Azhar dapat hadir melalui jalur yang beragam: politik kebangsaan, pesantren, dakwah, budaya, dan kehidupan masyarakat.
Kisah para alumni tersebut memperlihatkan satu hal penting: pendidikan bukan sekadar perjalanan untuk mendapatkan gelar, tetapi perjalanan untuk menemukan cara mengabdi. Mahmud Yunus membawa ilmu Al-Azhar ke dunia pendidikan. Quraish Shihab menghidupkan kajian Al-Qur’an. Alwi Shihab membawa pengalaman intelektualnya ke dunia diplomasi. Gus Dur dan Gus Mus memberikan warna dalam kehidupan sosial, keagamaan, kebudayaan, dan kebangsaan.
Medan perjuangan mereka berbeda, tetapi semangatnya sama: menjadikan ilmu sebagai jalan pengabdian kepada Indonesia. Kini, estafet itu berada di tangan generasi baru. Para pelajar Indonesia yang sedang mempersiapkan diri menuju Al-Azhar bukan hanya sedang mempersiapkan masa depan pribadi, tetapi juga memiliki kesempatan untuk meneruskan tradisi panjang pengabdian tersebut.
Sebab, perjalanan dari Nusantara menuju Kairo bukanlah akhir dari sebuah cita-cita. Justru setelah ilmu diperoleh, perjalanan yang sesungguhnya dimulai: kembali membawa ilmu, berkarya, dan memberikan manfaat bagi bangsa. Dari Al-Azhar untuk Indonesia. Dari Kairo menuju Nusantara. Dari ilmu menuju pengabdian.


