Ciamis (Afwaja) – Menuntut ilmu di Universitas Al-Azhar Mesir adalah impian ribuan pelajar muslim di berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia. Namun, di balik cita-cita besar itu terdapat perjalanan panjang yang menuntut kesungguhan, keikhlasan, dan perjuangan yang tidak ringan.
Pesan itulah yang disampaikan Dr. Nahla, Penasihat Grand Syekh Al-Azhar bidang pemberdayaan perempuan, saat berkunjung ke Indonesia dalam rangka menghadiri berbagai kegiatan ilmiah dan dakwah. Di sela-sela kunjungannya, beliau berkesempatan diwawancarai oleh dua santri Afwaja Center, Marsha dan Shobiro, yang secara khusus meminta nasihat bagi para calon mahasiswa Universitas Al-Azhar Mesir.
Dengan tutur kata yang lembut namun penuh ketegasan, Dr. Nahla mengawali pesannya dengan mengingatkan bahwa menjadi penuntut ilmu bukanlah sekadar mengejar gelar ataupun memperoleh pengakuan. Menjadi penuntut ilmu berarti memilih jalan yang dicintai Allah SWT, jalan yang dipenuhi perjuangan, kesabaran, dan pengorbanan.
“Nasihat saya kepada para penuntut ilmu, khususnya calon mahasiswa Al-Azhar, adalah milikilah kesungguhan, kerja keras, dan ketekunan dalam mencari ilmu. Jalan ilmu adalah jalan yang indah, jalan yang dicintai Allah, tetapi juga jalan yang membutuhkan perjuangan untuk melawan hawa nafsu.”
Menurut beliau, Allah SWT telah menjanjikan pertolongan bagi siapa saja yang bersungguh-sungguh dalam perjuangan di jalan-Nya. Sebagaimana firman-Nya:
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا
“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, niscaya akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (QS. Al-‘Ankabut: 69)
Bagi Dr. Nahla, kesungguhan dalam belajar bukan hanya ditunjukkan dengan hadir di ruang kelas, tetapi juga melalui kebiasaan mengulang pelajaran, memperbanyak membaca, dan menjaga semangat belajar setiap hari.
Beliau mengingatkan bahwa ilmu tidak akan bertahan tanpa murajaah. Karena itu, para pelajar hendaknya membiasakan diri mengulang pelajaran, memperdalam pemahaman, dan tidak cepat merasa puas dengan apa yang telah dipelajari.
Tak kalah penting, Dr. Nahla menekankan agar para calon mahasiswa selalu dekat dengan para ulama. Duduk di majelis ilmu, mendengarkan nasihat guru, serta mengambil keberkahan dari adab dan akhlak mereka merupakan bagian penting dari proses menuntut ilmu di Al-Azhar.
“Dekatilah para ulama, duduklah di majelis-majelis mereka, rajinlah membaca, rajinlah belajar, dan jangan pernah menyia-nyiakan waktu untuk sesuatu yang tidak bermanfaat.”
Bagi beliau, waktu adalah nikmat yang paling sering disia-siakan oleh para pelajar. Seseorang mungkin memiliki kecerdasan, tetapi jika waktunya habis untuk hal-hal yang tidak berguna, maka kesempatan emas dalam menuntut ilmu akan berlalu begitu saja.
Selain menjaga waktu, Dr. Nahla juga mengingatkan pentingnya memilih lingkungan pergaulan yang baik.
“Bertemanlah dengan orang-orang saleh. Sahabat akan menarikmu menuju kebaikan atau justru menjauhkanmu darinya.”
Pesan tersebut seolah menjadi pengingat bahwa perjalanan menuntut ilmu tidak pernah dijalani sendirian. Lingkungan yang baik akan membantu seseorang tetap istiqamah, saling mengingatkan ketika lalai, dan saling menguatkan ketika menghadapi kesulitan.
Di penghujung nasihatnya, Dr. Nahla mengajak seluruh calon mahasiswa untuk senantiasa meluruskan niat.
Baginya, ilmu yang diberkahi lahir dari hati yang ikhlas. Karena itu, setiap langkah dalam belajar hendaknya diniatkan semata-mata untuk mencari ridha Allah SWT, bukan demi popularitas ataupun kebanggaan pribadi.
“Ikhlaskan niat karena Allah dalam mencari ilmu. Kemudian bertawakallah kepada-Nya. Lakukan apa yang menjadi tugas kalian dengan sungguh-sungguh, lalu serahkan hasilnya kepada Allah.”
Beliau berharap para calon mahasiswa Al-Azhar kelak tumbuh menjadi ulama, pendidik, dan intelektual muslim yang memberikan manfaat bagi masyarakat. Terlebih bagi para mahasiswi, Dr. Nahla berharap mereka mampu menjadi teladan bagi generasi perempuan setelahnya.
“Insya Allah kalian akan menjadi para ilmuwan yang memberi manfaat bagi umat, menjadi teladan bagi generasi setelah kalian, sehingga mereka melihat pada diri kalian sosok muslimah yang salehah, berilmu, dan bermanfaat bagi agama serta masyarakat.”
Mengakhiri wawancara tersebut, Dr. Nahla memanjatkan doa untuk seluruh pelajar Indonesia, khususnya santri Afwaja Center yang tengah mempersiapkan langkah menuju Universitas Al-Azhar Mesir.
“Saya memohon kepada Allah agar memberikan taufik kepada kalian, meluruskan langkah-langkah kalian, memudahkan perjalanan kalian dalam menuntut ilmu, serta senantiasa menunjukkan kalian jalan yang lurus. Semoga Allah menjadikan kalian hamba-hamba-Nya yang berilmu, berakhlak, dan membawa manfaat bagi umat. Aamiin.”
Bagi keluarga besar Afwaja Center, pesan tersebut bukan sekadar nasihat, melainkan bekal berharga yang akan terus menemani setiap langkah para santri dalam menggapai cita-cita menuntut ilmu di Al-Azhar. Sebab, menjadi mahasiswa Al-Azhar bukan hanya tentang berhasil menembus gerbang universitas tertua di dunia Islam, tetapi juga tentang membentuk pribadi yang ikhlas, beradab, dan siap mengabdikan ilmunya untuk agama, bangsa, dan kemanusiaan.


