Kairo (Afwaja) – Syekh Muhammad Wajih Mabruk Abdul Aal, sosok ulama yang dihormati dan dikenal dekat dengan para pelajar Indonesia di Mesir, pernah menyampaikan pesan-pesan penting bagi para penuntut ilmu. Sebagai pembimbing santri di Afwaja Center Boarding Mesir, beliau tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga menanamkan nilai-nilai yang harus menjadi pegangan selama menjalani masa studi.
Dalam salah satu kesempatan, beliau menyampaikan empat nasihat utama kepada para pelajar Indonesia, baik yang belajar di ma’had maupun yang menempuh studi di Universitas Al-Azhar.
“Nasihat saya kepada para pelajar Indonesia di Mesir adalah agar mereka memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Masa yang dihabiskan di Mesir adalah kesempatan berharga yang tidak boleh disia-siakan. Gunakanlah siang dan malam untuk menuntut ilmu, dan hadirilah majelis-majelis ilmu selama mampu mengambil manfaat darinya.”
Beliau menegaskan bahwa waktu adalah amanah yang sangat berharga. Kehadiran di Mesir bukan sekadar untuk tinggal atau menjalani rutinitas, tetapi untuk mengoptimalkan setiap kesempatan belajar yang tersedia.
Nasihat berikutnya adalah tentang kesabaran.
“Ilmu membutuhkan kesabaran. Mempelajarinya, memahaminya, dan menjalaninya memerlukan keteguhan hati. Sebagaimana Nabi Khidir berkata kepada Nabi Musa, ‘Sesungguhnya engkau tidak akan mampu bersabar bersamaku.’ Maka seorang penuntut ilmu harus membiasakan dirinya untuk sabar.”
Bagi setiap pelajar, perjalanan menuntut ilmu tentu tidak lepas dari berbagai tantangan. Kesulitan memahami pelajaran, adaptasi dengan lingkungan baru, hingga jauhnya jarak dari keluarga adalah bagian dari ujian yang harus dihadapi dengan kesabaran.
Kemudian beliau menasihatkan pentingnya ketakwaan.
“Bertakwalah kepada Allah, karena ketakwaan adalah sebab datangnya keberkahan ilmu. Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Allah akan memberinya jalan keluar dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.”
Menurut beliau, ilmu tidak hanya dicapai dengan kecerdasan dan usaha lahiriah semata, tetapi juga dengan kedekatan seorang hamba kepada Allah SWT. Ketakwaan menjadi pintu kemudahan dan keberhasilan dalam menuntut ilmu.
Nasihat terakhir yang beliau sampaikan adalah tentang doa.
“Perbanyaklah doa, khususnya mintalah doa dari kedua orang tua. Mintalah pula doa dari para guru, masyayikh, dan orang-orang saleh agar Allah memudahkan perjalanan ilmu kalian dan memberikan pemahaman yang bermanfaat.”
Doa adalah kekuatan yang sering kali menjadi sebab datangnya pertolongan Allah dalam setiap kesulitan.
Nasihat-nasihat Syekh Wajih ini menjadi pengingat bahwa belajar di Mesir, khususnya di lingkungan ilmu seperti Al-Azhar Al-Syarif, bukan sekadar proses akademik, melainkan perjalanan pembentukan diri. Menuntut ilmu di Mesir menuntut kesungguhan, kedisiplinan, kesabaran, serta hubungan yang kuat dengan Allah SWT.
Bagi para pelajar Indonesia, kesempatan belajar di Mesir adalah amanah besar. Dengan memegang teguh nasihat-nasihat ini, masa studi di Negeri Kinanah dapat menjadi perjalanan yang penuh keberkahan, melahirkan generasi yang berilmu, berakhlak, dan siap membawa manfaat bagi umat dan bangsa.


