Ciamis (Afwaja) – Salah satu impian banyak mahasiswa yang datang ke Mesir, khususnya mahasiswa Al-Azhar Al-Syarif, adalah dapat bermulazamah dengan para masayikh dan ulama. Duduk di majelis ilmu, mendengarkan pelajaran secara langsung, membaca kitab di hadapan guru, serta merasakan manisnya talaqqi merupakan pengalaman yang sulit ditemukan di banyak tempat lain.
Namun, tidak sedikit mahasiswa baru yang merasa bingung ketika pertama kali tiba di Kairo. Mereka memiliki semangat besar untuk belajar, tetapi belum mengetahui harus memulai dari mana. Pertanyaan seperti, “Bagaimana cara mengenal syaikh?”, “Kajian mana yang harus diikuti?”, atau “Bagaimana agar bisa dekat dengan guru?” sering kali muncul di benak para pelajar. Padahal, jalan menuju mulazamah tidak selalu dimulai dengan hal-hal besar. Ia justru berawal dari langkah-langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten.
Memulai dari Majelis Ilmu
Langkah pertama dan paling penting adalah menghadiri majelis ilmu. Banyak mahasiswa terlalu sibuk mencari jalan pintas untuk bisa dekat dengan seorang syaikh, padahal hubungan antara guru dan murid biasanya tumbuh secara alami melalui kehadiran yang terus-menerus.
Seorang murid mengenal gurunya karena sering hadir di majelis, dan seorang guru mengenal muridnya karena melihat istiqamahnya. Oleh karena itu, jangan terlalu banyak menunggu atau mempertimbangkan. Datanglah ke majelis, duduk dengan adab yang baik, dengarkan pelajaran, dan ambil manfaat sebanyak mungkin. Sering kali, kedekatan dengan guru dimulai dari kehadiran yang sederhana namun konsisten.
Tidak Harus Selalu yang Viral dan Terkenal
Di era media sosial, banyak mahasiswa memiliki keinginan untuk belajar kepada syaikh yang populer dan dikenal luas. Tidak ada yang salah dengan hal tersebut. Namun, penting untuk diingat bahwa kemasyhuran bukan satu-satunya ukuran kualitas seorang guru.
Mesir dipenuhi oleh ulama yang memiliki kedalaman ilmu luar biasa meskipun namanya tidak banyak dikenal di internet. Bahkan, tidak jarang majelis yang kecil dan sederhana justru memberikan manfaat yang sangat besar karena suasananya lebih kondusif dan interaksi dengan guru lebih dekat.
Karena itu, jangan membatasi diri hanya pada nama-nama besar. Bukalah kesempatan untuk belajar kepada siapa saja yang memiliki ilmu, sanad, dan akhlak yang baik.
Dekat dengan Senior dan Lingkungan Ilmu
Bagi mahasiswa baru, senior sering kali menjadi sumber informasi yang sangat berharga. Mereka telah lebih dahulu menjalani kehidupan akademik di Mesir dan biasanya mengetahui berbagai majelis ilmu, karakter para syaikh, serta tempat-tempat talaqqi yang cocok untuk pemula.
Tidak perlu malu untuk bertanya kepada senior mengenai rekomendasi kajian atau guru yang sesuai dengan kebutuhan belajar. Dalam banyak kasus, informasi yang diperoleh dari senior dapat membantu mahasiswa menemukan lingkungan ilmu yang tepat dan mempercepat proses adaptasi. Dengan kata lain, senior dapat menjadi jembatan awal menuju dunia majelis dan mulazamah.
Menghilangkan Rasa Minder di Hadapan Ulama
Sebagian mahasiswa merasa sungkan atau takut untuk mendekati para syaikh. Mereka khawatir tidak cukup pintar, belum fasih berbahasa Arab, atau merasa belum layak menjadi murid yang dekat dengan ulama.
Padahal, banyak masayikh di Mesir justru sangat senang melihat mahasiswa yang memiliki semangat belajar. Selama seorang pelajar datang dengan adab yang baik, bertanya dengan sopan, dan menunjukkan kesungguhan dalam menuntut ilmu, para guru biasanya akan menyambutnya dengan baik.
Oleh sebab itu, jangan biarkan rasa minder menghalangi langkah dalam mencari ilmu. Keberanian yang disertai adab sering kali menjadi awal dari hubungan guru dan murid yang penuh keberkahan.
Memilih Majelis Sesuai Kebutuhan
Salah satu kesalahan yang cukup sering terjadi adalah keinginan untuk mengikuti semua kajian yang ada. Akibatnya, jadwal menjadi terlalu padat, fokus belajar berkurang, dan banyak pelajaran yang tidak dapat dikuasai dengan baik.
Menuntut ilmu membutuhkan prioritas. Seorang mahasiswa sebaiknya menentukan bidang yang paling dibutuhkan terlebih dahulu, seperti nahwu, sharaf, fikih, hadis, atau tafsir.
Belajar secara bertahap jauh lebih efektif daripada mengikuti banyak majelis tanpa pendalaman yang memadai. Sedikit demi sedikit, tetapi benar-benar dipahami, akan memberikan hasil yang lebih baik dalam jangka panjang.
Konsistensi Adalah Kunci
Dalam perjalanan menuntut ilmu, semangat awal adalah sesuatu yang mudah ditemukan. Namun, yang lebih sulit adalah menjaga konsistensi.
Tidak sedikit mahasiswa yang sangat aktif menghadiri majelis pada bulan-bulan pertama, kemudian perlahan menghilang karena kesibukan atau kehilangan motivasi. Padahal, hubungan antara guru dan murid dibangun melalui kehadiran yang berulang.
Ketika seorang syaikh melihat seorang murid terus hadir dari waktu ke waktu, muncul kepercayaan dan perhatian yang lebih besar. Dari sinilah sering kali terbuka kesempatan untuk mendapatkan bimbingan yang lebih dekat. Karena itu, istiqamah lebih berharga daripada semangat yang besar tetapi hanya berlangsung sesaat.
Jangan Menjadikan Foto sebagai Tujuan
Di zaman sekarang, tidak jarang sebagian orang merasa cukup dengan berfoto bersama ulama. Padahal hakikat kedekatan dengan guru bukanlah banyaknya dokumentasi, melainkan sejauh mana ilmu yang diajarkan dipahami, dihafal, diamalkan, dan dijaga. Keberkahan ilmu lahir dari adab, kesungguhan, dan pengamalan, bukan sekadar dari momen yang diabadikan dalam kamera. Yang terpenting bukanlah memiliki foto bersama syaikh, melainkan mampu membawa pulang pelajaran yang beliau sampaikan dan menjadikannya bagian dari kehidupan sehari-hari.
Bermulazamah dengan masayikh Al-Azhar bukanlah perjalanan yang instan. Ia membutuhkan kesabaran, adab, kesungguhan, dan istiqamah. Tidak semua guru yang baik adalah guru yang terkenal, dan tidak semua guru yang terkenal pasti cocok untuk setiap pelajar.
Karena itu, fokuslah mencari guru yang membuat kecintaan terhadap ilmu semakin bertambah, akhlak semakin baik, dan hubungan dengan Allah semakin dekat. Hadirilah majelis ilmu, hormati para guru, pilih kajian yang sesuai kebutuhan, serta jagalah konsistensi dalam belajar.
Pada akhirnya, perjalanan ilmu bukanlah tentang siapa yang paling cepat mencapai tujuan, melainkan siapa yang mampu terus berjalan dengan istiqamah hingga memperoleh ilmu yang bermanfaat dan penuh keberkahan.


