Ciamis (Afwaja) – Bagi sebagian pelajar Muslim, Mesir bukan sekadar negara tujuan untuk melanjutkan pendidikan. Negeri yang dikenal sebagai salah satu pusat peradaban Islam ini menjadi tempat bagi para penuntut ilmu untuk memperdalam keislaman, bahasa Arab, sekaligus mengenal tradisi keilmuan yang telah berlangsung panjang. Salah satu tujuan utama mereka adalah Universitas Al-Azhar Mesir.
Lantas, sebenarnya apa yang dicari ketika seseorang memutuskan belajar ke Al-Azhar?
Pertama, memperdalam ilmu keislaman. Al-Azhar memiliki tradisi akademik yang kuat dalam berbagai disiplin ilmu Islam, seperti Al-Qur’an, hadis, fikih, akidah, usul fikih, hingga bahasa Arab. Belajar di sana bukan sekadar mengejar gelar akademik, tetapi juga menjadi kesempatan untuk berinteraksi dengan lingkungan yang memiliki tradisi keilmuan Islam yang panjang.
Kedua, menguasai bahasa Arab. Bahasa Arab menjadi salah satu bekal utama bagi mahasiswa Al-Azhar. Banyak literatur keislaman ditulis dalam bahasa Arab, sehingga kemampuan memahami bahasa tersebut sangat membantu proses pembelajaran. Tinggal di lingkungan masyarakat Arab juga memberikan pengalaman untuk membiasakan diri menggunakan bahasa Arab dalam kehidupan sehari-hari.
Ketiga, mengenal tradisi keilmuan Al-Azhar. Belajar di Mesir memberikan pengalaman yang tidak selalu didapatkan di ruang kelas. Mahasiswa dapat berinteraksi dengan para guru, masyayikh, serta mahasiswa dari berbagai negara. Pengalaman tersebut dapat memperluas wawasan sekaligus memperkenalkan berbagai corak pemikiran dan tradisi akademik.
Keempat, membangun jejaring internasional. Mahasiswa Al-Azhar datang dari berbagai negara. Pertemuan dengan pelajar dari latar belakang berbeda dapat menjadi kesempatan untuk mengenal budaya lain, membangun persahabatan, dan memperluas jaringan. Relasi tersebut bahkan dapat berkembang menjadi kerja sama dalam bidang pendidikan, sosial, dan keislaman.
Kelima, mempersiapkan diri untuk memberikan manfaat. Menuntut ilmu ke Mesir idealnya tidak berhenti pada pencapaian pribadi. Ilmu yang diperoleh di Al-Azhar diharapkan dapat menjadi bekal untuk berkontribusi ketika kembali ke masyarakat. Menjadi guru, akademisi, peneliti, pendakwah, atau berkiprah dalam bidang lainnya merupakan bentuk pengabdian yang dapat lahir dari perjalanan menuntut ilmu.
Namun, perjalanan menuju Al-Azhar tentu membutuhkan persiapan. Calon mahasiswa perlu membekali diri dengan kemampuan bahasa Arab, pengetahuan keislaman, kesiapan akademik, serta kemampuan beradaptasi dengan lingkungan baru.
Di sinilah Afwaja Center hadir sebagai lembaga pembinaan bagi calon mahasiswa Al-Azhar. Melalui program pembinaan dan pendampingan, Afwaja Center berupaya membantu calon mahasiswa mempersiapkan berbagai bekal yang diperlukan sebelum melanjutkan perjalanan ke Mesir.
Sebab, berangkat ke Al-Azhar bukanlah sekadar persoalan pergi ke luar negeri. Ada ilmu yang harus dikejar, adab yang harus dijaga, pengalaman yang harus dijalani, dan tanggung jawab yang kelak harus ditunaikan.
Maka sebelum bertanya, “Bagaimana cara kuliah ke Al-Azhar?”, seorang calon mahasiswa perlu bertanya kepada dirinya sendiri: “Untuk apa saya belajar ke Al-Azhar?”
Sebab perjalanan yang jauh akan lebih bermakna ketika seseorang mengetahui tujuan yang ingin dicapai. Dan bagi seorang penuntut ilmu, Al-Azhar bukan sekadar tempat mendapatkan gelar, tetapi juga tempat menempa diri untuk menjadi insan berilmu dan bermanfaat.


