Ciamis – Karantina bagi calon pelajar Ma’had Al-Azhar Mesir saat ini tengah berlangsung di Pondok Pesantren Shibghatul Azhar Asy-Syarif, Ciamis, Jawa Barat. Program ini diselenggarakan sebagai bentuk pembekalan intensif sebelum para pelajar diberangkatkan ke Mesir.
Tujuan utama dari karantina ini adalah untuk mematangkan kemampuan bahasa Arab para calon pelajar. Hal ini penting agar mereka dapat dengan cepat beradaptasi dengan sistem pembelajaran di Ma’had Al-Azhar, di mana seluruh proses belajar-mengajar dilakukan oleh para masyayikh asal Mesir dalam bahasa Arab.
Namun, karantina ini tidak hanya fokus pada aspek bahasa. Pembinaan karakter, akhlak, dan etika juga menjadi bagian yang sangat penting dalam program ini. Para peserta dibimbing untuk memahami dan mengamalkan adab kepada guru, menghormati ilmu, serta menanamkan sikap rendah hati dan kesungguhan dalam menuntut ilmu. Selain itu, mereka juga diperkenalkan dengan Afwaja Center, sebuah lembaga di Indonesia yang menjadi pendamping dan fasilitator keberangkatan mereka ke Mesir.
Pembelajaran Intensif Sehari Penuh
Proses karantina berlangsung sejak pagi hingga malam hari, dengan jadwal yang padat dan terstruktur. Materi yang diberikan meliputi pelatihan bahasa Arab, penguatan hafalan, kajian kitab-kitab dasar, serta pembinaan akhlak dan manajemen diri.
Para peserta berasal dari berbagai daerah di Indonesia, dari ujung barat hingga timur. Keberagaman latar belakang ini justru memperkaya suasana belajar dan menjadikan program karantina sebagai wadah persaudaraan lintas daerah.
Sulton Al-Farisi: Semangat Menuntut Ilmu dari Palu ke Kairo
Salah satu peserta karantina adalah Sulton Al-Farisi, remaja asal Kota Palu, Sulawesi Tengah, yang lahir pada tahun 2010. Ia baru saja menyelesaikan pendidikan di SMP IT Al-Fahmi dan bercita-cita melanjutkan studi di Ma’had Al-Azhar Mesir.
Dalam sebuah wawancara, Sulton mengungkapkan motivasinya:
“Alasan saya ingin belajar ke Ma’had Al-Azhar adalah agar terjaga dari lingkungan yang buruk, dan bisa mencari ilmu agama agar kelak di akhirat dapat menggandeng tangan orang tua, keluarga, dan teman menuju surga,” ungkapnya.
Ia juga menyampaikan rasa syukurnya bisa mengikuti program karantina:
“Alhamdulillah, saya senang dan nyaman mengikuti karantina di Afwaja Center. Saya berharap mendapat ridho Allah dan kedua orang tua saya. Setelah lulus dari Ma’had, saya ingin melanjutkan kuliah di Universitas Al-Azhar Mesir.”
Remaja yang memiliki hobi bermain sepak bola ini menunjukkan semangat dan antusiasme tinggi dalam mengikuti setiap sesi pembelajaran. Kesungguhan dan tekadnya menjadi cerminan harapan besar akan lahirnya generasi muda Islam yang berilmu dan berakhlak mulia.

