Kairo, Mesir (Afwaja) — Al-Azhar bukan sekadar tempat untuk memperoleh gelar akademik. Lebih dari itu, Al-Azhar memiliki peran penting dalam membentuk cara berpikir dan membangun kemampuan intelektual para penuntut ilmu. Hal tersebut disampaikan Syekh Usamah Sayyid Al-Azhari dalam nasihatnya kepada mahasiswa baru Indonesia yang menempuh pendidikan di Mesir.
“Al-Azhar pada hakikatnya adalah pembentuk akal, pembentuk cara berpikir yang benar,” demikian salah satu pesan yang disampaikan Syekh Usamah. Ia meminta para penuntut ilmu untuk mengingat baik-baik kalimat tersebut karena menurutnya, memahami hakikat pendidikan di Al-Azhar menjadi bagian penting dari perjalanan seorang pelajar selama menuntut ilmu.
Menurut Syekh Usamah, para thalibul ‘ilmi datang ke Al-Azhar dari berbagai penjuru dunia bukan semata-mata untuk mendapatkan ijazah. Mereka datang dengan tujuan agar selama bertahun-tahun belajar, akalnya dibentuk melalui proses pendidikan yang panjang, perangkat keilmuannya (adawāt ‘ilmiyyah) dilengkapi, serta memahami kaidah-kaidah berbagai disiplin ilmu.
Proses tersebut tidak berlangsung secara singkat. Seorang penuntut ilmu perlu menjalani tahapan belajar dengan kesabaran dan ketekunan hingga memiliki perangkat keilmuan yang memadai. Ketika perangkat tersebut telah terbentuk, ia diharapkan memiliki kemampuan berpikir ilmiah yang benar dan lurus dalam memahami berbagai persoalan.
Cahaya Ilmu dalam Memahami Al-Qur’an
Syekh Usamah kemudian menggambarkan hubungan antara ilmu, akal, dan Al-Qur’an. Ketika ilmu dan akal seorang penuntut ilmu terbentuk melalui bimbingan para ulama, ilmu tersebut akan memberikan cahaya bagi hati dan pikirannya.
Dengan bekal keilmuan yang memadai, seorang pelajar tidak hanya membaca Al-Qur’an secara tekstual, tetapi juga memiliki kemampuan untuk memahami kandungan dan maksud ayat sesuai dengan perangkat ilmu yang telah dipelajarinya.
Ia menggambarkan bahwa ketika seseorang telah memiliki perangkat ilmu, seakan-akan “lemari pemahamannya” terbuka ketika membaca Al-Qur’an. Setiap kali membacanya, terbuka pula pintu ilmu dan makrifah yang lebih luas. Dari sana, seorang penuntut ilmu dapat berusaha menyingkap cahaya Al-Qur’an yang Allah Swt. jadikan sebagai rahmat bagi seluruh alam.
Pesan tersebut menunjukkan bahwa ilmu yang dipelajari di Al-Azhar tidak seharusnya berhenti pada hafalan atau penguasaan materi. Ilmu harus membentuk cara berpikir sehingga seorang pelajar mampu memahami teks keagamaan dengan perangkat yang tepat dan menghubungkannya dengan berbagai persoalan kehidupan.
Al-Azhar dan Pembentukan Akal
Dari penjelasan tersebut, Syekh Usamah mengajak para mahasiswa untuk kembali bertanya tentang tujuan mereka datang ke Al-Azhar. Apa sebenarnya kepentingan seorang thalibul ‘ilmi belajar di Al-Azhar? Apa peran Al-Azhar dalam perjalanan keilmuan mereka?
Jawaban yang ia tekankan adalah membentuk akal. Al-Azhar, menurutnya, memiliki peran sebagai lembaga yang membentuk cara berpikir seorang penuntut ilmu agar memiliki pemahaman ilmiah yang benar dan lurus.
Karena itu, masa belajar di Al-Azhar seharusnya tidak hanya dimanfaatkan untuk mengejar nilai, menyelesaikan mata kuliah, atau memperoleh gelar. Lebih jauh, masa tersebut merupakan kesempatan untuk membangun fondasi berpikir, memperkaya perangkat keilmuan, dan belajar langsung dari tradisi keilmuan yang diwariskan para ulama.
Namun, Syekh Usamah menegaskan bahwa pembentukan akal bukanlah satu-satunya peran Al-Azhar bagi para penuntut ilmu. Masih terdapat peran penting lainnya yang perlu dipahami oleh setiap mahasiswa yang datang ke Al-Azhar.


