Jakarta – Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Agama (Kemenag) bersama Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Mesir terus berupaya meningkatkan tata kelola keberangkatan mahasiswa Indonesia yang akan melanjutkan pendidikan di Universitas Al-Azhar Kairo. Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari upaya menciptakan sistem yang lebih tertib, aman, dan terintegrasi bagi para calon mahasiswa.
Pembahasan tersebut berlangsung dalam pertemuan antara Wakil Menteri Agama, Romo Muhammad Syafi’i, dengan Duta Besar Republik Indonesia untuk Mesir, Kuncoro Giri Waseso, di Jakarta. Pertemuan tersebut membahas berbagai persoalan yang selama ini dihadapi mahasiswa Indonesia, mulai dari proses keberangkatan hingga pembinaan selama menjalani studi di Mesir.
Tingginya Minat Studi ke Al-Azhar
Universitas Al-Azhar masih menjadi salah satu tujuan utama pelajar Indonesia yang ingin memperdalam ilmu-ilmu keislaman. Setiap tahun jumlah pendaftar terus meningkat, sementara kuota penerimaan yang tersedia tetap terbatas.
Kondisi tersebut mendorong pemerintah untuk menyusun mekanisme yang lebih baik agar proses seleksi dan keberangkatan berlangsung secara transparan, tertata, dan memberikan kesempatan yang sama bagi seluruh calon mahasiswa. Selain itu, sistem yang lebih terorganisasi diharapkan mampu memudahkan proses pendataan mahasiswa Indonesia yang berada di Mesir.
Mencegah Praktik Perantara Ilegal
Salah satu perhatian utama dalam pembahasan tersebut adalah masih ditemukannya praktik perantara atau broker yang menawarkan jasa keberangkatan ke Mesir di luar mekanisme resmi. Praktik semacam ini dinilai berpotensi merugikan calon mahasiswa, baik dari sisi administrasi maupun keamanan.
Melalui tata kelola yang lebih baik, pemerintah ingin memastikan bahwa setiap mahasiswa memperoleh pendampingan sejak proses seleksi di Indonesia hingga menjalani pendidikan di Mesir. Sistem yang terintegrasi juga diharapkan mampu memberikan perlindungan yang lebih optimal kepada mahasiswa Indonesia selama berada di luar negeri.
Penguatan Pembinaan dan Pencegahan Radikalisme
Selain persoalan administrasi, KBRI Mesir juga menyoroti pentingnya pembinaan mahasiswa setelah tiba di Mesir. Pendataan yang lebih rapi diyakini dapat mempermudah koordinasi apabila mahasiswa menghadapi persoalan akademik maupun nonakademik.
Pemerintah juga menilai bahwa pengawasan dan pembinaan yang berkelanjutan diperlukan sebagai langkah preventif untuk melindungi mahasiswa dari berbagai pengaruh negatif, termasuk penyebaran paham radikal yang dapat menyasar pelajar asing. Oleh sebab itu, koordinasi antara Kementerian Agama dan KBRI Mesir akan terus diperkuat dalam memberikan pendampingan kepada mahasiswa Indonesia.
Gagasan Program Persiapan di Indonesia
Dalam pertemuan tersebut turut dibahas peluang menghadirkan program persiapan akademik Al-Azhar di Indonesia. Gagasan ini memungkinkan calon mahasiswa memperoleh pembelajaran awal sebelum berangkat ke Mesir, bahkan dengan melibatkan tenaga pengajar dari Al-Azhar.
Apabila dapat direalisasikan, program tersebut diharapkan mampu meningkatkan kesiapan akademik mahasiswa, memperkuat kemampuan bahasa Arab, sekaligus mengurangi penumpukan keberangkatan calon mahasiswa ke Mesir.
Komitmen Meningkatkan Layanan Mahasiswa
Kementerian Agama menegaskan kesiapannya memberikan dukungan kebijakan dan administrasi agar pembenahan tata kelola ini dapat segera diwujudkan. Pemerintah berharap sistem baru nantinya mampu menghadirkan proses keberangkatan yang lebih tertib, meningkatkan kualitas pembinaan, serta memberikan perlindungan yang lebih baik bagi mahasiswa Indonesia yang menempuh pendidikan di Universitas Al-Azhar Kairo.
Sinergi antara Kementerian Agama, KBRI Mesir, dan berbagai pemangku kepentingan diharapkan menjadi langkah strategis dalam menciptakan ekosistem pendidikan luar negeri yang lebih profesional, akuntabel, dan berpihak pada kepentingan mahasiswa Indonesia.
Sumber : Kompas


