Sejarah Pendidikan Perempuan di Universitas Al-Azhar

Dr. Nahlah Al-Shaidy, Tokoh Perempuan Al-Azhar yang menjabat sebagai Penasihat Grand Syekh Al-Azhar, Foto: Istimewa
Dr. Nahlah Al-Shaidy, Tokoh Perempuan Al-Azhar yang menjabat sebagai Penasihat Grand Syekh Al-Azhar, Foto: Istimewa

Ciamis (Afwaja) – Dalam beberapa tahun terakhir, perhatian Al-Azhar terhadap isu perempuan semakin terlihat jelas. Grand Syekh Al-Azhar, Syekh Ahmad Ath-thayyeb secara konsisten menegaskan bahwa Islam menjunjung tinggi martabat perempuan dan menjamin hak-haknya, termasuk hak untuk memperoleh pendidikan. Dalam berbagai kesempatan, beliau menekankan pentingnya memahami ajaran Islam secara utuh, terutama terkait kedudukan perempuan, kesetaraan tanggung jawab, dan pemaknaan yang tepat atas konsep kepemimpinan dalam keluarga maupun masyarakat.
Sikap ini menunjukkan komitmen kuat dalam memastikan bahwa hak perempuan dipahami sesuai ajaran Islam yang autentik, jauh dari penafsiran sempit yang kerap berkembang di tengah masyarakat.

Latar Belakang Sejarah: Masa Kemunduran Dunia Islam
Pada abad ke-18 hingga ke-19, banyak wilayah Islam mengalami masa kemunduran dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk pendidikan. Kondisi ini turut memengaruhi akses perempuan terhadap ilmu pengetahuan. Di banyak negeri Muslim, kesempatan belajar bagi perempuan sangat terbatas akibat situasi sosial-politik yang tidak stabil, pemahaman agama yang kurang komprehensif, serta tradisi yang belum sepenuhnya mendukung pendidikan perempuan.
Meski sejak awal dikenal sebagai pusat keilmuan Islam, pada masa itu perempuan belum memperoleh akses pendidikan formal secara luas sebagaimana yang terlihat saat ini.

Awal Pendidikan Modern bagi Perempuan di Mesir & Peran Tokoh Pembaharu Islam
Pembukaan pendidikan perempuan secara modern di Mesir dimulai pada masa pemerintahan . Pada tahun 1832 M, ia mendirikan sekolah perempuan pertama bernama Madrasah Al-Muwallidat. Langkah ini menjadi titik awal penting dalam sejarah pendidikan perempuan di Mesir.
Perkembangan ini kemudian dilanjutkan oleh pada tahun 1873 M melalui pendirian sekolah negeri khusus perempuan. Kebijakan tersebut mendapat dukungan besar dari istrinya, Jasymah Hanim, yang turut berkontribusi dalam pembiayaan dan pengembangannya.
Kebijakan-kebijakan ini menjadi fondasi awal yang mendorong perubahan pandangan masyarakat terhadap pentingnya pendidikan bagi perempuan

Pada akhir abad ke-19, muncul sejumlah tokoh pembaharu Islam yang menyerukan pentingnya pendidikan perempuan sebagai bagian dari kebangkitan umat. Salah satu tokoh yang paling berpengaruh adalah .
Sebagai ulama besar dan pembaharu, beliau menegaskan bahwa perempuan memiliki peran strategis dalam membangun peradaban. Menurutnya, menghalangi perempuan dari pendidikan adalah bentuk ketidakadilan yang bertentangan dengan spirit syariat Islam.
Gagasan-gagasan pembaruan yang dibawanya memberi pengaruh besar terhadap perubahan sistem pendidikan di Mesir, termasuk di lingkungan .

Bukti Kehadiran Perempuan di Lingkungan Al-Azhar
Sejarawan Inggris mencatat bahwa pada abad ke-19 telah terdapat perempuan yang belajar Al-Qur’an dan ilmu agama di sekitar lingkungan Al-Azhar.
Meskipun akses mereka saat itu masih terbatas, beberapa di antaranya berhasil mencapai tingkat keilmuan tinggi dan diakui sebagai ahli fikih. Fakta ini menunjukkan bahwa semangat perempuan untuk menuntut ilmu di Al-Azhar telah ada sejak lama, meskipun belum difasilitasi secara formal.

Sejarah pendidikan perempuan di Al-Azhar adalah perjalanan panjang yang menunjukkan bagaimana Islam selalu berpihak pada ilmu dan keadilan. Dari masa keterbatasan hingga era keterbukaan seperti sekarang, Al-Azhar terus bertransformasi menjadi pelopor pendidikan Islam yang memberi ruang luas bagi perempuan untuk berkembang.
Hal ini menegaskan bahwa pendidikan perempuan bukanlah gagasan baru dalam Islam, melainkan bagian dari tradisi keilmuan yang terus diperjuangkan dan diwariskan dari generasi ke generasi.

Artikel Serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *