Pentingnya Bahasa Arab Sebelum Studi ke Al-Azhar Mesir

Ciamis – Bagi siapa pun yang ingin menuntut ilmu di Universitas Al-Azhar, Mesir, satu hal yang tidak bisa ditawar adalah penguasaan bahasa Arab. Bukan tanpa alasan. Bahasa Arab bukan hanya bahasa pengantar di kelas, tetapi juga merupakan bahasa ilmu, budaya, dan tradisi ilmiah yang telah hidup selama lebih dari seribu tahun di lembaga ini.

Universitas Al-Azhar tidak seperti kampus-kampus Islam pada umumnya. Ia dikenal sebagai pusat keilmuan yang memadukan pendekatan klasik (turats) dengan kurikulum modern. Maka, tanpa bahasa Arab, seorang mahasiswa akan kehilangan akses langsung kepada sumber utama ilmu Islam dan kesulitan mengikuti perkuliahan secara utuh.

Al-Azhar dan Dunia Kitab Kuning

Kitab-kitab yang diajarkan di Al-Azhar adalah warisan ulama-ulama besar seperti Imam Nawawi, Al-Ghazali, Ibnu Hajar, As-Suyuthi, dan banyak lainnya. Hampir seluruh kitab tersebut ditulis dalam bahasa Arab klasik, tanpa harakat dan tanpa terjemahan. Di sinilah letak pentingnya memahami nahwu, sharaf, balaghah, dan struktur kalimat Arab.

Tanpa kemampuan membaca dan menganalisis teks Arab, mahasiswa hanya akan menjadi penonton di dalam kelas. Ia akan kesulitan menangkap penjelasan dosen, apalagi menanggapi pertanyaan yang diajukan. Di sisi lain, mahasiswa yang sudah terbiasa membaca dan memahami teks Arab akan menikmati kuliah dengan lebih mudah, bahkan bisa berdiskusi aktif dengan para masyaikh.

Bukan Sekadar Bisa Ngobrol

Banyak calon mahasiswa yang mengira cukup dengan bisa berbicara Arab sehari-hari (ammiyah) untuk bertahan di Mesir. Padahal, bahasa yang digunakan di ruang kuliah adalah bahasa Arab fusha yang baku dan tinggi, bukan bahasa pasar.

Kemampuan berbicara saja tidak cukup. Diperlukan kemampuan untuk:

  • Membaca teks Arab tanpa harakat.
  • Memahami struktur kalimat dan makna secara mendalam.
  • Menulis makalah dan tugas dalam bahasa Arab.
  • Menjawab soal ujian dalam bahasa Arab yang baik dan benar.

Maka, persiapan bahasa sebelum berangkat ke Mesir adalah investasi akademik jangka panjang.

Belajar Sebelum Keberangkatan: Pilihan Bijak

Beberapa santri dan pelajar yang bersungguh-sungguh mempersiapkan diri biasanya mengikuti program khusus bahasa Arab sebelum berangkat, seperti di pesantren, mediator, atau lembaga pembinaan. Program ini sangat penting untuk memperkuat dasar-dasar seperti:

  • Ilmu Nahwu dan Sharaf.
  • Mufradat dan mahfuzhat.
  • Membaca dan menganalisis kitab klasik.
  • Latihan percakapan dan menulis ilmiah.

Dengan bekal ini, mahasiswa akan lebih siap menghadapi imtihaan qobul (ujian penempatan) dan perkuliahan. Lebih dari itu, ia akan lebih cepat beradaptasi dan tidak merasa terasing dalam dunia akademik Al-Azhar.

Bahasa Arab, Bahasa Ulama

Menguasai bahasa Arab bukan hanya syarat administratif, tapi juga bentuk penghormatan kepada ilmu dan para ulama. Ketika seorang pelajar mampu membaca kitab-kitab turats tanpa bantuan terjemahan, ia sedang menyambung sanad keilmuan yang bersih dan otentik.

Bahasa Arab adalah bahasa Al-Qur’an. Menguasainya bukan hanya untuk studi, tapi juga untuk memahami agama secara lebih dalam dan jernih. Bukan hanya di Al-Azhar, tapi dalam perjalanan hidup keilmuan seorang muslim, bahasa Arab akan selalu menjadi bekal utama.

Belajar di Universitas Al-Azhar adalah sebuah kehormatan, namun juga sebuah tantangan. Siapa yang datang dengan bekal yang cukup, khususnya dalam bahasa Arab, akan lebih mudah mengarungi samudra ilmu yang luas di sana.

Maka bagi para calon mahasiswa, jangan tunda untuk memulai. Belajarlah bahasa Arab sedini mungkin, kuasai dasar-dasarnya, dan biasakan diri dengan kitab-kitab ulama. Dengan demikian, ketika nanti tiba di Al-Azhar, kamu tak hanya hadir sebagai mahasiswa, tapi sebagai pencari ilmu sejati yang siap menyelami hikmah warisan para ulama.

Artikel Serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *