Meniti Mimpi Pemuda Sulawesi Tenggara Menuju Al-Azhar : “Al-Azhar Mesir Mimpi Saya Sejak Kecil”

Ciamis  – Program Dauroh Ta’hiliyah yang tengah berlangsung di Mesir menyimpan banyak kisah perjuangan dari para calon mahasiswa baru (camaba) Universitas Al-Azhar. Di balik aktivitas belajar yang padat dari pagi hingga malam, tersimpan harapan dan cita-cita besar yang hendak mereka wujudkan—menjadi bagian dari salah satu pusat keilmuan Islam tertua dan ternama di dunia.

Dauroh Ta’hiliyah sendiri merupakan program pembekalan intensif yang diwajibkan bagi camaba yang tidak berasal dari latar belakang pendidikan Al-Azhar, seperti alumni madrasah aliyah atau pesantren. Diselenggarakan oleh Markaz Tathwir Ta’lim Ath-Thullab Al-Wafidin wa al-Ajanib (Pusat Pengembangan Pendidikan Mahasiswa Asing), program ini berlangsung selama 30 hingga 45 hari. Tujuannya adalah untuk memperkuat kemampuan bahasa Arab serta memberikan pengantar dasar ilmu-ilmu keislaman (‘ulūm syar’iyyah) dan kebahasaan Arab (‘ulūm al-lughah al-‘arabiyyah).

Salah satu peserta yang turut menapaki perjalanan ini adalah Rahmat, camaba asal Kusambi, Sulawesi Tenggara. Ia merupakan lulusan Pondok Pesantren Baitul Quran Al Askar, Kendari, yang selama masa nyantri telah berhasil menghafal ayat-ayat suci Al-Qur’an. Hafalan itu kini menjadi bekalnya menempuh pendidikan di Al-Azhar, tempat yang menurutnya sangat mendukung pengembangan hafalan dan ilmu agama secara menyeluruh.

“Mesir adalah negara yang paling saya impikan sejak kecil,” tutur Rahmat. “Saya mulai bersungguh-sungguh belajar agama dan merantau ke kota untuk mondok, dengan harapan itu menjadi wasilah saya bisa ke Mesir. Negara ini telah melahirkan banyak ulama dan masyaikh yang ilmunya luas dan tinggi. Saya ingin menjadi seperti mereka.”

Kini, mimpinya perlahan mulai mendekati kenyataan. Melalui proses Dauroh Ta’hiliyah yang intensif, Rahmat mendapatkan bekal penting untuk menghadapi Ujian Hadatsah Mu’adalah, yakni ujian penyetaraan ijazah yang akan menentukan apakah ia resmi diterima di Universitas Al-Azhar.

Selama mengikuti program ini, Rahmat tinggal di Afwaja Center, sebuah lembaga pembinaan yang turut membantu para camaba mempersiapkan diri secara akademik dan mental. Ia mengaku sangat terbantu dengan metode dan pendekatan pengajaran yang diterapkan.

“Alhamdulillah, Afwaja Center sangat memudahkan saya dalam mewujudkan cita-cita ini. Bimbingan programnya menjadikan Al-Azhar sebagai rujukan utama. Khususnya dalam Dauroh Ta’hiliyah, kami dibimbing memahami materi dari para pengajar, sehingga merasa lebih siap menghadapi ujian nanti,” jelasnya.

Kisah Rahmat adalah potret semangat pemuda Indonesia yang terus tumbuh dan tak gentar bermimpi besar. Dengan bekal hafalan Al-Qur’an, kerja keras, dan doa, ia melangkah menuju negeri para ulama—demi menjadi insan yang berilmu dan bermanfaat bagi umat.

Artikel Serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *