Yahya Aqil Darros, seorang penuntut ilmu asal Batam, adalah lulusan Pondok Pesantren MA Syekh Zainudin. Sejak di pesantren, Yahya telah menaruh ketertarikan besar terhadap Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Baginya, Al-Azhar bukan sekadar lembaga pendidikan, melainkan pusat keilmuan Islam dunia yang melahirkan ribuan ulama lintas generasi. Yang paling menarik baginya adalah bahwa keilmuan di Al-Azhar memiliki sanad yang bersambung langsung hingga Rasulullah , menjadikannya sumber ilmu yang tidak hanya luas, tetapi juga otentik.
Namun, seperti banyak santri lainnya, Yahya sempat bingung mencari jalan untuk bisa melanjutkan studi ke sana. Ia pun mulai mencari informasi, dibantu oleh seorang teman, hingga akhirnya mengenal Afwaja Center, lembaga persiapan studi ke Mesir. Setelah mempelajari prosedur dan ketentuannya, Yahya mengajukan izin kepada orang tuanya untuk mengikuti program karantina yang diadakan oleh Afwaja.
Pada bulan Februari, saat masih berada di pondok, ayahnya menelpon dan memintanya segera berangkat ke Ciamis, Pulau Jawa, untuk mengikuti karantina di Afwaja Center. Tanpa ragu, Yahya memulai perjalanannya.
Sesampainya di Ciamis, Yahya berada dalam lingkungan yang benar-benar baru. Ia bertemu dengan teman-teman dari berbagai penjuru Indonesia. Awalnya ia ragu, merasa asing dan tidak yakin bisa menyelesaikan proses karantina. Namun dengan tekad dan semangat untuk terus belajar, ia mulai beradaptasi. Hari-hari diisi dengan jadwal yang padat—belajar nahwu, shorof, balaghah, mantiq, dan berbagai disiplin ilmu lainnya. Ia belajar bersama, berdiskusi, dan saling mendukung dengan sesama peserta karantina.
Tiba saatnya ujian Tahdid Mustawa, sebuah ujian penentuan level kemampuan bahasa Arab. Yahya sempat merasa khawatir tidak lulus. Namun berkat dukungan dari para asatidz dan teman-temannya, ia menumbuhkan kembali kepercayaan diri. Hasilnya pun menggembirakan—ia berhasil meraih nilai yang baik. Alhamdulillah, ia sangat bersyukur atas pencapaian itu.
Usai tahapan karantina, Yahya melanjutkan ke fase berikutnya: Daurah Ta’hiliyah, sebuah program pembelajaran yang langsung dibimbing oleh para masyayikh dari Mesir. Meski dilaksanakan secara daring, materi yang diajarkan sangat berbobot dan memperluas wawasan keilmuan Yahya. Program ini berlangsung selama 40 hari dan menjadi batu loncatan penting sebelum ujian akhir.
Setelah menyelesaikan ta’hiliyah, Yahya kembali ke Ciamis untuk menghadapi ujian Hadatsah Mu’adalah, yang menjadi penentu kelayakannya berangkat ke Mesir. Ia mengikuti ujian dengan penuh kesiapan dan rasa tawakal. Alhamdulillah, ujian itu berhasil dilalui. Kini, ia tengah menantikan hasil akhir, sambil terus mempersiapkan diri dengan optimisme dan harapan tinggi.
Yahya Aqil Darros adalah satu dari banyak pemuda Indonesia yang berjuang menjemput mimpi menuntut ilmu di negeri para ulama. Semangatnya dalam belajar, keberaniannya dalam merantau, serta kesungguhannya dalam menghadapi tantangan menjadi cerminan dari semangat generasi santri Indonesia yang ingin berkontribusi di dunia Islam melalui jalur keilmuan.
Ia yakin, dengan izin Allah, tahun ini ia akan menjejakkan kaki di Al-Azhar Kairo—tempat impian itu akan menjadi kenyataan.


