Ciamis (Afwaja) – Di tengah beragam persoalan yang dihadapi umat Islam dan masyarakat dunia, keberadaan lembaga yang mempertemukan para ulama dan tokoh Muslim menjadi salah satu ikhtiar penting dalam membangun dialog, perdamaian, dan kehidupan yang harmonis. Salah satu lembaga tersebut adalah Majelis Hukama Muslim atau Muslim Council of Elders (MCE), yang dipimpin oleh Grand Syekh Al-Azhar, Prof. Dr. Ahmad Al-Tayyeb.
Majelis Hukama Muslim merupakan lembaga internasional independen yang didirikan di Abu Dhabi pada 19 Juli 2014 atau 21 Ramadan 1435 H. Lembaga ini menghimpun sejumlah ulama, cendekiawan, dan tokoh Muslim dari berbagai negara yang dikenal memiliki keilmuan, kebijaksanaan, sikap moderat, keadilan, dan independensi. Sejak berdiri, lembaga ini berada di bawah kepemimpinan Prof. Dr. Ahmad Al-Tayyeb, Grand Imam Al-Azhar.
Menguatkan Perdamaian dan Dialog
Majelis Hukama Muslim dibentuk dengan visi membangun masyarakat yang aman, menghargai ilmu dan ulama, serta menjunjung nilai persahabatan, toleransi, dan hidup berdampingan secara damai. Misinya tidak hanya diarahkan kepada masyarakat Muslim, tetapi juga mencakup hubungan dengan komunitas non-Muslim.
Salah satu perhatian utama lembaga ini adalah mendorong dialog sebagai jalan untuk menyelesaikan berbagai perbedaan. Majelis juga berupaya memperkuat persatuan umat Islam, mengurangi konflik dan perpecahan, serta menghadirkan pemahaman Islam yang moderat dan menghargai martabat manusia.
Dalam perkembangannya, isu yang menjadi perhatian Majelis semakin luas. Pada peringatan 12 tahun pendiriannya pada Juli 2026, Majelis menegaskan kembali komitmennya terhadap dialog global, pembangunan perdamaian, persaudaraan kemanusiaan, persatuan umat Islam, serta upaya menghadapi ujaran kebencian, intoleransi, ekstremisme, dan Islamofobia.
Grand Syekh Al-Azhar sebagai Pimpinan
Prof. Dr. Ahmad Al-Tayyeb menjadi figur sentral dalam perjalanan Majelis Hukama Muslim. Selain menjabat sebagai Grand Imam Al-Azhar, ia juga merupakan Ketua Majelis Hukama Muslim. Kepemimpinannya menjadikan Al-Azhar memiliki keterkaitan erat dengan berbagai agenda keislaman dan kemanusiaan yang dijalankan lembaga tersebut.
Komposisi Majelis menunjukkan cakupan internasional. Di antara anggotanya terdapat Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab dari Indonesia, Sheikh Dr. Abdullah bin Bayyah dari Uni Emirat Arab, Prince Ghazi bin Muhammad dari Yordania, Prof. Dr. Hasan El-Shafei dari Al-Azhar, serta sejumlah ulama dan tokoh dari Afrika, Asia, Timur Tengah, Eropa, dan kawasan lainnya.
Adapun Sekretaris Jenderal Majelis saat ini adalah Judge Mohamed Abdelsalam. Ia sebelumnya menjadi penasihat Grand Imam Al-Azhar selama delapan tahun dan turut berperan dalam proses penyusunan Dokumen Persaudaraan Kemanusiaan yang ditandatangani Grand Imam Al-Azhar dan Paus Fransiskus di Abu Dhabi pada 4 Februari 2019.
Dari Dialog Antaragama hingga Persatuan Umat
Salah satu kiprah penting Majelis adalah memperkuat dialog antaragama dan persaudaraan kemanusiaan. Hubungan antara Grand Imam Al-Azhar dan Paus Fransiskus menjadi salah satu contoh penting dari upaya tersebut. Kolaborasi keduanya melahirkan Dokumen Persaudaraan Kemanusiaan yang kemudian menjadi salah satu rujukan penting dalam pembicaraan mengenai toleransi dan kehidupan bersama.
Selain dialog antaragama, Majelis juga memberi perhatian terhadap hubungan internal umat Islam. Pada 2022, Grand Imam Al-Azhar menyerukan penguatan dialog intra-Islam. Upaya tersebut kemudian berlanjut melalui berbagai konsultasi dan pertemuan dengan tokoh-tokoh dari beragam tradisi Islam. Puncaknya, pada Februari 2025, digelar Konferensi Dialog Intra-Islam di Bahrain yang dihadiri lebih dari 400 ulama, otoritas keagamaan, dan intelektual dari berbagai negara. Forum tersebut menghasilkan deklarasi “Call for the People of Qiblah” sebagai seruan untuk memperkuat persatuan, saling memahami, dan kerja sama di antara umat Islam.
Lembaga yang Menjawab Persoalan Dunia Kontemporer
Majelis Hukama Muslim tidak hanya bergerak dalam isu keagamaan. Perkembangan programnya menunjukkan perhatian terhadap persoalan kemanusiaan dan tantangan kontemporer, termasuk perdamaian, martabat manusia, teknologi, kecerdasan buatan, dialog lintas agama, serta pemberdayaan generasi muda.
Pada 2026, misalnya, Majelis terlibat dalam berbagai forum mengenai tata kelola kecerdasan buatan dan etika teknologi. Lembaga ini juga menjalankan program yang mendorong keterlibatan generasi muda dalam pembangunan perdamaian, dialog antaragama, dan penguatan persaudaraan kemanusiaan.
Dengan demikian, Majelis Hukama Muslim dapat dipahami sebagai salah satu wadah internasional yang mempertemukan otoritas keilmuan dan tokoh Muslim untuk merespons persoalan umat sekaligus membangun jembatan dialog dengan masyarakat yang lebih luas. Di bawah kepemimpinan Grand Syekh Al-Azhar Prof. Dr. Ahmad Al-Tayyeb, lembaga ini terus membawa agenda perdamaian, dialog, toleransi, persatuan umat, dan persaudaraan kemanusiaan ke tingkat internasional.


