Ciamis (Afwaja) – Dunia keilmuan Islam mengenal banyak ulama yang mengabdikan hidupnya untuk ilmu, pendidikan, dan bahasa Arab. Salah satunya adalah Prof. Dr. Hasan Mahmoud ‘Abd al-Latif al-Syafi‘i, ulama dan akademisi asal Mesir yang hingga kini dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam kajian akidah, filsafat Islam, ilmu kalam, serta bahasa Arab.
Hasan al-Syafi‘i lahir di Desa Bani Madi, wilayah Biba, Provinsi Bani Suwayf, Mesir, pada 19 Desember 1930. Dengan tanggal kelahiran tersebut, pada September 2026 ia telah mencapai usia 95 tahun. Sejak usia muda, ia telah menaruh perhatian besar terhadap ilmu-ilmu keislaman. Ia bahkan telah menghafal Al-Qur’an ketika masih kecil sebelum melanjutkan pendidikan formalnya di lingkungan Al-Azhar.
Menempuh Pendidikan di Al-Azhar hingga London
Pada 1944, Hasan al-Syafi‘i masuk Ma‘had al-Qahirah al-Dini milik Al-Azhar. Ia menyelesaikan pendidikan dasar pada 1948 dan pendidikan menengah pada 1953. Setelah itu, ia menempuh pendidikan di Fakultas Ushuluddin Universitas Al-Azhar sekaligus Fakultas Dar al-‘Ulum Universitas Kairo.
Pada 1963, ia memperoleh gelar dalam bidang bahasa Arab dan ilmu-ilmu keislaman dari Dar al-‘Ulum serta memperoleh al-Syahadah al-‘Aliyah dalam bidang akidah dan filsafat dari Fakultas Ushuluddin Al-Azhar, keduanya dengan predikat kehormatan. Setelah itu, ia mulai berkarier sebagai akademisi di Fakultas Dar al-‘Ulum.
Perjalanan akademiknya kemudian berlanjut ke Inggris. Pada 1973, ia berangkat ke School of Oriental and African Studies (SOAS), University of London. Di sana ia menyelesaikan studi doktoralnya dan meraih gelar doktor dalam bidang studi Islam pada 1977. Disertasinya membahas perkembangan ilmu kalam Imamiyah pada abad ketujuh Hijriah.
Mengabdikan Diri di Dunia Pendidikan Islam
Sepulang dari Inggris, Hasan al-Syafi‘i kembali mengembangkan karier akademiknya di Dar al-‘Ulum. Selain berkiprah di Mesir, ia juga memiliki pengalaman panjang dalam pendidikan Islam internasional.
Pada 1981, ia dikirim ke International Islamic University Islamabad, Pakistan. Ia ikut berperan dalam pengembangan universitas tersebut, termasuk penyusunan kurikulum. Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu pimpinan universitas dan pada 1998 ditunjuk sebagai rektor.
Selama memimpin universitas tersebut, ia turut mengembangkan struktur pendidikan dan mendirikan sejumlah fakultas baru. Peran tersebut menjadi salah satu alasan penting mengapa kontribusinya kemudian mendapatkan perhatian dalam penghargaan internasional. King Faisal Prize mencatat keterlibatannya dalam pendirian, pengembangan kurikulum, dan kepemimpinan International Islamic University Islamabad sebagai bagian dari kiprahnya dalam pelayanan terhadap ilmu-ilmu Islam.
Ulama Al-Azhar dan Anggota Majelis Hukama Muslimin
Di lingkungan Al-Azhar, Hasan al-Syafi‘i merupakan anggota Hay’ah Kibar al-‘Ulama atau Dewan Ulama Senior Al-Azhar. Ia juga menjadi salah satu anggota pendiri Majlis Hukama’ al-Muslimin atau Muslim Council of Elders yang dibentuk pada 2014.
Majelis Hukama Muslimin mencatat bahwa Hasan al-Syafi‘i telah menerbitkan sekitar sepuluh buku berbahasa Arab mengenai filsafat Islam, ilmu kalam, dan tasawuf. Ia juga menghasilkan lebih dari 30 penelitian ilmiah yang diterbitkan di berbagai jurnal dan berkala di Mesir maupun luar negeri, selain melakukan tahqiq terhadap sejumlah karya klasik dan menerjemahkan beberapa buku.
Dalam perjalanan akademiknya, ia juga pernah menjadi anggota berbagai lembaga ilmiah dan kebudayaan, termasuk Dewan Tertinggi Urusan Keislaman Mesir, pusat kajian Islam Universitas Kairo, serta dewan akademik di Manchester dan dewan wali International Islamic University Islamabad.
Karya dan Pemikiran
Bidang kajian Hasan al-Syafi‘i sangat erat dengan persoalan akidah, filsafat Islam dan ilmu kalam. Di antara karya yang dinisbatkan kepadanya adalah al-Amidi wa Ara’uhu al-Kalamiyyah, ‘Ilm al-Kalam baina Madih wa Hadirih, Fusul fi al-Tasawwuf, al-Tayyar al-Masya’i fi al-Falsafah al-Islamiyyah, serta kajian mengenai pemikiran Abu Hamid al-Ghazali dan Muhammad ‘Abduh.
Ia juga memiliki perhatian terhadap tradisi intelektual Islam klasik melalui penelitian dan tahqiq terhadap karya-karya ulama terdahulu. Salah satu karya akademiknya membahas Saifuddin al-Amidi, seorang tokoh penting dalam tradisi ilmu kalam Asy‘ari.
Karakter keilmuannya memperlihatkan perpaduan antara tradisi pendidikan Al-Azhar dengan pendekatan akademik modern. Pendidikan di Al-Azhar, Universitas Kairo, dan University of London membentuk perjalanan intelektual yang mempertemukan warisan keilmuan Islam klasik dengan kajian akademik kontemporer.
Memasuki usia 95 tahun pada 2026, Hasan al-Syafi‘i menjadi gambaran panjangnya pengabdian seorang ulama terhadap ilmu pengetahuan. Selama lebih dari enam dekade, perjalanan hidupnya bersentuhan dengan berbagai pusat keilmuan, mulai dari Al-Azhar dan Universitas Kairo, hingga University of London dan International Islamic University Islamabad.
Perjalanan Prof. Dr. Hasan al-Syafi‘i menunjukkan bahwa usia panjang dapat berjalan beriringan dengan panjangnya pengabdian. Dari ruang-ruang pendidikan Al-Azhar hingga lembaga akademik internasional, jejaknya memperlihatkan bagaimana seorang ulama dapat berperan dalam menjaga tradisi keilmuan Islam sekaligus merespons perkembangan dunia akademik modern.

