Kairo (Afwaja) – Usia senja tidak selalu menjadi alasan untuk berhenti melangkah. Bagi seorang ulama, pengabdian kepada ilmu dapat terus menyala selama hayat masih dikandung badan. Gambaran itu tampak dalam sosok Prof. Dr. Muhammad Abu Musa, salah satu ulama senior Al-Azhar sekaligus pakar balaghah dan sastra Arab.
Di usianya yang telah mencapai 89 tahun, beliau masih rutin menempuh perjalanan panjang menuju Masjid Al-Azhar untuk menghadiri majelis ilmu dan mengajar para penuntut ilmu.
Setiap Selasa, menjelang siang, beliau meninggalkan rumah dengan membawa sebuah tas kecil berisi beberapa kitab. Dari rumah, beliau berjalan menuju stasiun, kemudian menaiki metro menuju Atabah, salah satu kawasan di Kairo. Perjalanan kemudian dilanjutkan dengan angkutan umum menuju kawasan Masjid Al-Azhar. Perjalanan tersebut memakan waktu lebih dari satu jam. Tujuannya sederhana: menghadiri majelis ilmu dan mengajar.
Di dalam tas kecil yang selalu dibawanya terdapat Mushaf Al-Qur’an serta dua kitab penting karya Imam Abdul Qahir Al-Jurjani, yakni Dalail al-I’jaz dan Asrar al-Balaghah. Kitab-kitab itu tampak lusuh, menjadi saksi betapa seringnya ia membaca, mengkaji, dan membawanya dalam perjalanan.
Sesampainya di Al-Azhar, beliau menunaikan salat, kemudian duduk di majelis ilmu untuk menyampaikan pelajaran kepada para muridnya. Usianya boleh 89 tahun. Namun, semangatnya untuk mengajar seakan tidak mengenal kata tua.
Suatu ketika, seorang murid melihat gurunya datang dengan membawa tas sendiri. Beberapa murid kemudian berinisiatif untuk membantu membawakan barang-barang tersebut. Namun, sang guru menolaknya.
Bagi beliau, bakti seorang murid kepada guru tidak berhenti pada mencium tangan atau membantu membawakan tas. Ada bentuk pengabdian yang jauh lebih besar: memahami ilmu untuk kemudian mengajarkannya kepada orang lain.
Beliau menekankan bahwa seorang penuntut ilmu hendaknya belajar bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk menyampaikan dan mengajarkan ilmu tersebut.
“Memahami ilmu untuk mengajarkannya, dan belajar untuk mengajarkannya.”
Pesan tersebut menunjukkan bahwa ilmu dalam tradisi ulama bukan sekadar sesuatu yang dikumpulkan, tetapi amanah yang harus diteruskan.
Beliau kemudian mengisahkan Imam Al-Muzani, salah seorang murid Imam Syafi’i, yang membaca kitab Al-Risalah sebanyak 500 kali. Menariknya, setiap kali membaca, ia selalu menemukan faedah dan pemahaman baru.
Kisah tersebut menjadi gambaran bagaimana seharusnya seorang penuntut ilmu berinteraksi dengan kitab. Membaca bukan sekadar mengejar berapa banyak halaman yang telah diselesaikan. Membaca adalah proses untuk kembali, mengulang, memahami, merenungkan, dan menemukan kedalaman makna yang mungkin belum terlihat pada pembacaan sebelumnya.
Dari sana, seorang penuntut ilmu tidak hanya menghafal isi kitab, tetapi belajar memahami cara berpikir seorang ulama, menyusun argumentasi, serta menemukan berbagai faedah baru dari ilmu yang dipelajarinya.
Syaikhul Balaghiyyin yang Tak Berhenti Mengajar
Prof. Dr. Muhammad Abu Musa dikenal luas di kalangan akademisi dan penuntut ilmu sebagai salah satu pakar balaghah dan sastra Arab. Kedalaman keilmuannya membuat beliau dikenal dengan julukan Syaikhul Balaghiyyin, sebuah gelar yang menggambarkan kepakarannya dalam bidang balaghah.
Namun, yang membuat sosoknya semakin mengagumkan bukan hanya keluasan ilmu yang dimilikinya. Pada usia 89 tahun, ketika banyak orang mungkin memilih untuk mengurangi aktivitas, beliau justru masih berjalan menuju stasiun, menaiki metro, berganti angkutan umum, lalu duduk di majelis ilmu untuk mengajar. Perjalanan panjang tersebut seolah menjadi pelajaran tersendiri bagi para muridnya: bahwa ilmu membutuhkan kesungguhan, pengabdian, dan kesabaran.
Dari langkah seorang ulama sepuh menuju Al-Azhar, para penuntut ilmu dapat belajar bahwa usia bukan penghalang untuk terus memberi. Dari sebuah tas kecil berisi kitab, mereka belajar bahwa ilmu tidak akan bernilai jika hanya berhenti pada diri sendiri.
Dan dari majelis yang dipimpinnya, mereka kembali diingatkan bahwa menjadi penuntut ilmu sejatinya adalah mempersiapkan diri untuk menjadi penyampai ilmu. Sebab, ilmu yang dipelajari hari ini adalah amanah yang harus diwariskan kepada generasi berikutnya.
Pada akhirnya, kisah Prof. Dr. Muhammad Abu Musa bukan hanya tentang seorang ulama berusia 89 tahun yang masih mengajar. Lebih dari itu, ia adalah kisah tentang ketekunan, kecintaan kepada ilmu, dan pengabdian yang tidak mengenal usia.


