Ciamis (Afwaja Center) – Setiap perjalanan besar selalu berawal dari sebuah mimpi sederhana. Begitu pula kisah Rocky, alumni Afwaja Center yang kini menjadi mahasiswa Universitas Al-Azhar Kairo. Setelah sekitar satu setengah tahun menimba ilmu di Mesir, ia membagikan kisah perjalanannya melalui media sosial—sebuah cerita yang mengingatkan bahwa mimpi tidak pernah memilih siapa yang boleh memilikinya, tetapi selalu menguji siapa yang benar-benar bersedia memperjuangkannya.
Berasal dari keluarga sederhana, Rocky tumbuh dengan satu pesan yang terus ditanamkan oleh kedua orang tuanya: “Sekolah setinggi langit.” Mimpi masa kecilnya memang pernah berubah-ubah. Namun, sejak duduk di bangku kelas lima sekolah dasar, setelah menyaksikan sebuah ceramah Ustadz Abdul Somad, muncul keinginan yang begitu kuat dalam dirinya untuk menjadi seorang ustadz. Sejak saat itulah nama Al-Azhar Kairo tidak pernah lepas dari angan-angannya.
Mimpi itu bukan sekadar angan yang disimpan dalam hati. Ia mulai menyusun langkah demi langkah untuk mendekatinya.
Ketika hendak melanjutkan pendidikan ke pesantren, ia memilih lembaga yang dapat membantunya menguasai bahasa Arab. Sang ayah bahkan pernah berpesan, “Bagaimana mau kuliah di Mesir kalau belum bisa bahasa Arab?” Pesan sederhana itu menjadi bekal yang terus ia ingat sepanjang perjalanan.
Sempat muncul rencana untuk mondok di sebuah pesantren yang terkenal dengan pengajaran bahasa Arabnya. Namun, takdir berkata lain. Biaya pendaftaran yang berada di luar kemampuan keluarga membuat mereka harus membatalkan keberangkatan. Momen itu menjadi salah satu ujian pertama yang harus dihadapi.
Alih-alih menyerah, keluarga memilih jalan lain. Atas saran sang ibu, Rocky akhirnya menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Syaichona Moh. Cholil Bangkalan selama tujuh tahun. Di pesantren salaf itulah ia ditempa, bukan hanya dengan ilmu agama, tetapi juga dengan kesabaran, kemandirian, kedisiplinan, serta keteguhan hati dalam menghadapi kehidupan.
Selama di pesantren, hampir setiap orang yang dikenalnya mengetahui satu cita-cita besarnya: kuliah di Al-Azhar Mesir. Ia tidak pernah malu menceritakan mimpinya kepada siapa pun. Tidak sedikit yang menanggapinya dengan senyuman bahkan tawa. Namun, hal itu tidak pernah membuatnya mundur.
Baginya, keyakinan terhadap diri sendiri jauh lebih penting daripada pengakuan orang lain.
“Jika mimpimu tidak pernah ditertawakan, mungkin mimpimu memang belum cukup besar.”
Kalimat itu menjadi penyemangat yang terus menemaninya melangkah.
Di tengah perjalanan, ada pula kisah yang hingga kini selalu mengundang senyum ketika dikenang. Saat mengikuti studi tur ke Kampung Inggris Pare, ia melihat sebuah lembaga bernama “Al-Azhar Pare”. Karena kepolosannya saat itu, ia mengira tempat tersebut merupakan cabang resmi Universitas Al-Azhar Mesir. Dengan penuh kebanggaan, ia pun berfoto di depan papan nama lembaga tersebut. Baru kemudian ia menyadari bahwa anggapannya keliru. Meski demikian, kenangan itu justru menjadi pengingat bahwa mimpi besar terkadang dimulai dari kepolosan yang tulus.
Setelah menyelesaikan masa pengabdian di pesantren, Rocky mulai mencari berbagai jalan untuk mewujudkan cita-citanya. Ia berburu informasi beasiswa, bertanya kepada banyak orang, dan memanfaatkan setiap kesempatan yang ada. Hingga akhirnya, jalan itu membawanya bertemu dengan Afwaja Center.
Melalui Afwaja Center, Rocky mengikuti proses persiapan secara bertahap, mulai dari karantina intensif, pembinaan akademik dan bahasa Arab, hingga mengikuti berbagai tahapan seleksi keberangkatan menuju Universitas Al-Azhar Mesir. Proses tersebut bukanlah perjalanan yang singkat maupun mudah, tetapi setiap tahap dijalaninya dengan penuh kesungguhan dan keyakinan.
Di balik setiap proses itu, keluarga kembali diuji dengan berbagai tantangan. Namun, sebagaimana perjalanan-perjalanan sebelumnya, ujian tersebut justru semakin menguatkan tekadnya untuk tidak berhenti melangkah.
Hari yang dahulu hanya hidup dalam angan akhirnya benar-benar datang.
Di usia yang baru menginjak 20 tahun, Rocky menapakkan kaki di tanah Mesir, negeri yang selama bertahun-tahun hanya hadir dalam doa-doanya. Al-Azhar yang dahulu hanya ia lihat dalam imajinasi, kini menjadi tempatnya belajar setiap hari.
Bagi Rocky, keberhasilan itu bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal dari amanah yang lebih besar. Ia menyadari bahwa setiap langkah yang pernah dilaluinya telah membentuk pribadi yang lebih kuat, lebih sabar, dan lebih siap menghadapi tantangan kehidupan.
Ia juga tidak pernah melupakan jasa kedua orang tuanya.
Baginya, kasih sayang orang tua bukan sekadar rangkaian kata, melainkan kekuatan yang menopang setiap langkah perjuangan. Dukungan keluarga, sahabat, guru, dan orang-orang baik yang hadir sepanjang perjalanan menjadi cahaya yang terus menerangi jalan yang ditempuhnya.
Kisah Rocky menjadi pengingat bahwa tidak ada mimpi yang terlalu tinggi bagi mereka yang mau mempersiapkan diri dan tidak menyerah ketika jalan terasa sulit. Keterbatasan ekonomi, keraguan orang lain, maupun berbagai kegagalan bukanlah akhir dari perjalanan. Semuanya hanyalah bagian dari proses yang menempa seseorang menjadi pribadi yang lebih kuat.
Afwaja Center sendiri telah menjadi salah satu jembatan bagi banyak calon mahasiswa Indonesia yang bercita-cita melanjutkan studi ke Universitas Al-Azhar Kairo. Melalui pembinaan yang terarah, pendampingan akademik, serta persiapan menghadapi berbagai tahapan seleksi, para peserta dipersiapkan agar mampu bersaing dan siap menempuh pendidikan di salah satu pusat keilmuan Islam tertua di dunia.
Perjalanan Rocky membuktikan bahwa mimpi tidak pernah datang kepada mereka yang hanya menunggu. Mimpi datang kepada mereka yang terus bergerak, memperbaiki diri, berani mencoba, dan tetap bertahan meski berkali-kali dihadapkan pada ketidakpastian.
Karena pada akhirnya, setiap langkah kecil yang dilakukan dengan penuh keikhlasan akan membawa seseorang semakin dekat kepada tujuan yang telah lama dipanjatkan dalam doa.
“Tetaplah bergerak. Setiap langkah, sekecil apa pun, adalah bukti bahwa mimpi sedang mencari jalannya menuju kenyataan.”

