Ciamis (Afwaja) – Selama lebih dari seribu tahun, Universitas Al-Azhar di Kairo, Mesir, telah menjadi salah satu pusat keilmuan Islam paling berpengaruh di dunia. Berdiri sejak tahun 970 M, Al-Azhar telah melahirkan jutaan ulama, cendekiawan, hakim, mufti, hingga pemimpin umat dari berbagai negara. Hingga kini, Al-Azhar tetap menjadi tujuan utama para pelajar Muslim yang ingin mendalami ilmu-ilmu keislaman secara mendalam sekaligus memperoleh sanad keilmuan yang bersambung kepada para ulama terdahulu.
Lalu, apa yang membedakan sistem pendidikan Al-Azhar dengan universitas Islam pada umumnya?
1. Tradisi Keilmuan Berusia Lebih dari 1.000 Tahun
Keistimewaan pertama Al-Azhar adalah tradisi keilmuannya yang telah berlangsung selama lebih dari satu milenium. Berbeda dengan sebagian besar universitas Islam modern yang baru berdiri pada abad ke-20, Al-Azhar mempertahankan mata rantai transmisi ilmu (sanad) dari generasi ke generasi.
Seorang mahasiswa Al-Azhar tidak hanya belajar dari buku, tetapi juga belajar langsung kepada para masyayikh yang merupakan pewaris tradisi keilmuan Islam klasik. Karena itu, pembelajaran di Al-Azhar bukan sekadar mengejar nilai akademik, tetapi juga membentuk karakter, adab, dan cara berpikir ilmiah.
2. Fokus Mendalam pada Kitab Turats
Di banyak universitas Islam, referensi utama sering kali berupa buku-buku modern atau hasil penelitian kontemporer. Sementara itu, Al-Azhar tetap menjadikan kitab-kitab turats (warisan ulama klasik) sebagai fondasi utama pembelajaran.
Mahasiswa mempelajari karya-karya ulama besar seperti Imam an-Nawawi, Imam al-Ghazali, Imam al-Juwaini, Imam as-Suyuthi, Ibnu Hajar al-‘Asqalani, hingga Imam Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin as-Suyuthi dalam berbagai disiplin ilmu, mulai dari fikih, usul fikih, tafsir, hadis, akidah, hingga bahasa Arab.
Pendekatan ini membuat mahasiswa memahami perkembangan pemikiran Islam dari sumber aslinya sebelum mengkaji isu-isu kontemporer.
3. Menjaga Empat Mazhab Fikih
Salah satu ciri khas Al-Azhar adalah komitmennya terhadap empat mazhab fikih Ahlus Sunnah wal Jamaah: Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali.
Mahasiswa tidak diarahkan untuk mengikuti satu pendapat secara eksklusif, tetapi diajak memahami dalil, metodologi istinbath, serta alasan perbedaan pendapat di antara para imam mazhab. Pendekatan ini melahirkan sikap ilmiah, toleran, dan moderat dalam menyikapi khilafiyah.
4. Menggabungkan Tradisi dan Modernitas
Meskipun terkenal sebagai pusat studi Islam klasik, Al-Azhar juga terus berkembang mengikuti kebutuhan zaman.
Selain fakultas-fakultas syariah, ushuluddin, bahasa Arab, dan dakwah, Al-Azhar memiliki fakultas kedokteran, teknik, farmasi, sains, pertanian, ekonomi, hingga media. Hal ini menunjukkan bahwa Al-Azhar memandang ilmu agama dan ilmu pengetahuan modern sebagai dua bidang yang saling melengkapi.
5. Sistem Belajar yang Menuntut Kemandirian
Mahasiswa Al-Azhar dituntut memiliki kemampuan belajar mandiri yang tinggi.
Perkuliahan umumnya berlangsung dalam bentuk penyampaian materi oleh dosen, namun keberhasilan mahasiswa sangat bergantung pada kesungguhan mereka membaca kitab, menghadiri halaqah para masyayikh, berdiskusi dengan teman, serta melakukan murojaah secara rutin. Budaya akademik seperti ini telah menjadi ciri khas Al-Azhar selama berabad-abad.
6. Lingkungan Internasional
Al-Azhar menjadi rumah bagi puluhan ribu mahasiswa asing dari lebih dari 100 negara.
Dalam satu kelas, seorang mahasiswa dapat belajar bersama pelajar dari Indonesia, Malaysia, Nigeria, Turki, Pakistan, Thailand, Rusia, hingga berbagai negara Eropa dan Amerika. Lingkungan multikultural ini memperluas wawasan serta memperkuat kemampuan berdialog dengan berbagai latar belakang budaya dan mazhab.
7. Misi Menyebarkan Islam Wasathiyah
Pendidikan di Al-Azhar tidak hanya bertujuan menghasilkan lulusan yang menguasai ilmu agama, tetapi juga ulama dan intelektual yang mampu menyebarkan nilai-nilai Islam wasathiyah (moderat), toleransi, dan perdamaian.
Karena itu, kurikulum Al-Azhar menekankan keseimbangan antara penguasaan ilmu, akhlak, penghormatan terhadap perbedaan pendapat, serta tanggung jawab sosial di tengah masyarakat. Nilai-nilai inilah yang menjadikan Al-Azhar diakui sebagai salah satu rujukan utama dunia Islam dalam menghadapi berbagai persoalan kontemporer.
Yang membedakan Al-Azhar dari banyak universitas Islam bukan hanya usianya yang telah melampaui seribu tahun, tetapi juga kemampuannya mempertahankan tradisi keilmuan klasik sambil tetap beradaptasi dengan perkembangan zaman. Perpaduan antara sanad keilmuan, kajian kitab turats, penghormatan terhadap empat mazhab, lingkungan internasional, dan komitmen terhadap Islam moderat menjadikan Al-Azhar memiliki karakter pendidikan yang khas.
Bagi banyak pelajar Muslim, belajar di Al-Azhar bukan sekadar memperoleh gelar akademik, melainkan memasuki sebuah tradisi intelektual yang telah membentuk peradaban Islam selama berabad-abad.


