Adab Menuntut Ilmu dan Ketawadhuan Ulama Al-Azhar

Kitab Shahih Bukhari, merupakan Kitab Hadist terkenal di kalangan penuntut ilmu, Foto: Istimewa
Kitab Shahih Bukhari, merupakan Kitab Hadist terkenal di kalangan penuntut ilmu, Foto: Istimewa

Ciamis (Afwaja) – Dalam tradisi Islam, menuntut ilmu bukan sekadar aktivitas akademik untuk menambah pengetahuan, tetapi merupakan ibadah yang memiliki aturan dan adab yang harus dijaga. Para ulama terdahulu selalu menekankan bahwa adab harus didahulukan sebelum ilmu. Sebab, ilmu yang tidak disertai adab dapat menjadi sebab munculnya kesombongan, sedangkan ilmu yang dibangun di atas adab akan melahirkan kebijaksanaan dan keberkahan.
Imam Malik pernah berpesan kepada salah seorang muridnya agar mempelajari adab terlebih dahulu sebelum mempelajari ilmu. Pesan ini menunjukkan bahwa keberhasilan seorang penuntut ilmu tidak hanya diukur dari banyaknya hafalan atau luasnya wawasan, tetapi juga dari kemuliaan akhlak dan sikapnya.
Adab menuntut ilmu mencakup banyak aspek, di antaranya meluruskan niat karena Allah, menghormati guru, bersikap tawadhu’, bersungguh-sungguh dalam belajar, menjaga akhlak dalam majelis ilmu, serta mengamalkan ilmu yang telah diperoleh. Dengan adab inilah ilmu akan menjadi cahaya yang menerangi kehidupan seseorang.

Tawadhu Jalan Para Ulama
Salah satu adab paling penting dalam menuntut ilmu adalah tawadhu’ atau rendah hati. Semakin tinggi ilmu seseorang, seharusnya semakin besar pula kesadarannya akan luasnya ilmu Allah yang belum ia ketahui.
Allah berfirman:
“Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (QS. Al-Isra’: 85)
Ayat ini mengajarkan bahwa sebesar apa pun ilmu manusia, tetap hanya setetes dibandingkan lautan ilmu Allah. Oleh karena itu, para ulama sejati tidak pernah merasa paling pintar atau paling benar.
Imam Syafi’i pernah berkata:
“Semakin aku bertambah ilmu, semakin aku mengetahui betapa banyak yang belum aku ketahui.”
Perkataan ini menggambarkan bahwa ilmu yang benar akan melahirkan kerendahan hati, bukan kesombongan.

Al-Azhar dan Tradisi Ketawaduan Ulama
Sebagai salah satu pusat keilmuan Islam tertua di dunia, dikenal bukan hanya karena kualitas ilmunya, tetapi juga karena tradisi adab yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Para mahasiswa yang belajar di Al-Azhar sering menyaksikan bagaimana para masyayikh dan ulama besar menunjukkan sikap tawadhu’ yang luar biasa. Meskipun memiliki kedalaman ilmu yang diakui dunia Islam, mereka tetap bersikap sederhana, mudah bergaul dengan murid-muridnya, dan tidak segan melayani masyarakat.
Banyak ulama Al-Azhar yang tetap berjalan kaki menuju masjid, duduk bersama para penuntut ilmu tanpa membedakan status sosial, serta melayani pertanyaan para mahasiswa dengan penuh kesabaran. Mereka memandang bahwa kemuliaan ilmu tidak terletak pada penghormatan manusia, melainkan pada kebermanfaatannya bagi umat.

Ketawaduan Grand Syekh Al-Azhar
saat ini seseorang sering melihat dari jabatan, kekuasaan, dan popularitas, sosok Ahmed el-Tayeb menghadirkan teladan yang berbeda. Sebagai Grand Syekh Al-Azhar, beliau memimpin salah satu lembaga Islam paling berpengaruh di dunia. Namun, kedudukan yang tinggi tersebut tidak menjadikannya jauh dari sifat tawadhu’ dan kesederhanaan yang menjadi ciri para ulama.
Tawadhu’ merupakan akhlak yang sangat dijunjung dalam Islam. Semakin tinggi ilmu seseorang, semakin besar pula kesadarannya bahwa ilmu Allah jauh lebih luas daripada apa yang ia ketahui. Nilai inilah yang tampak dalam kehidupan Grand Syekh Al-Azhar. Dalam satu kesempatan, Grand Syekh pernah mengatakan bahwa salah satu cita-citanya kini adalah bisa mengajar Al-Qur’an kepada anak-anak kecil di surau. Ini adalah bentuk ketawadhuannya.

Pelajaran bagi Penuntut Ilmu Masa Kini
Di era media sosial, seseorang dapat dengan mudah memperoleh informasi dan merasa cukup dengan pengetahuan yang dimilikinya. Tidak jarang muncul sikap merasa paling benar, mudah menyalahkan orang lain, atau meremehkan pendapat para ulama.
Tradisi Al-Azhar mengajarkan hal yang berbeda. Semakin tinggi ilmu seseorang, semakin besar rasa hormatnya kepada guru, semakin hati-hati dalam berbicara, dan semakin rendah hatinya di hadapan sesama manusia.
Karena itu, setiap penuntut ilmu hendaknya menjadikan tawadhu’ sebagai bagian dari perjalanan ilmiahnya. Ketika memperoleh ilmu baru, ia tidak boleh merasa lebih baik dari orang lain. Ketika berhasil mencapai prestasi akademik, ia harus menyadari bahwa semua itu merupakan karunia Allah yang dapat dicabut kapan saja.

Adab merupakan fondasi utama dalam menuntut ilmu, sedangkan tawadhu’ adalah salah satu buah terindah dari ilmu yang benar. Tradisi keilmuan Al-Azhar selama berabad-abad telah menunjukkan bahwa keagungan seorang ulama tidak hanya terlihat dari keluasan ilmunya, tetapi juga dari kerendahan hatinya.
Para ulama Al-Azhar mengajarkan bahwa ilmu sejati adalah ilmu yang mendekatkan seseorang kepada Allah, memperbaiki akhlaknya, dan menjadikannya lebih rendah hati di hadapan manusia. Oleh karena itu, setiap penuntut ilmu hendaknya tidak hanya berusaha menjadi orang yang berilmu, tetapi juga berusaha menjadi pribadi yang beradab dan tawadhu’, sebagaimana teladan para ulama Al-Azhar sepanjang sejarah.

Artikel Serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *