Ciamis (Afwaja) – Muhammad Adnan, pemuda asal Kampung Cibolang, Desa Telukpinang, Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor, kini tengah berada pada salah satu fase penting dalam perjalanan pendidikannya menuju Universitas Al-Azhar Mesir. Setelah menyelesaikan masa karantina pembelajaran dan mengikuti ujian tahdid mustawa, Adnan saat ini sedang menunggu dimulainya dauroh ta’hiliyah sebagai bagian dari pproses seleksi akademik menuju Al-Azhar Mesir.
Lahir pada 30 November 2005 dan menempuh pendidikan di Pesantren Fathan Mubina Ciawi Bogor, Adnan sejak awal memiliki ketertarikan terhadap ilmu-ilmu keislaman, khususnya Al-Qur’an dan tafsir. Ketertarikan itu membawanya memilih jalur pendidikan ke Universitas Al-Azhar, salah satu lembaga pendidikan Islam tertua dan paling berpengaruh di dunia muslim.
Sebelum mengikuti ujian tahdid mustawa, Adnan menjalani masa karantina di bawah asuhan Ustadzah Asyiah. Dalam masa tersebut, para peserta dibimbing untuk memperkuat kemampuan bahasa Arab, pemahaman materi dasar, serta kesiapan mental menghadapi kehidupan akademik di Mesir. Bagi Adnan, proses itu bukan hanya tentang belajar menghadapi ujian, tetapi juga latihan untuk membiasakan diri hidup disiplin dan dekat dengan suasana keilmuan.
Menurut beberapa rekan dan pembimbingnya, Adnan dikenal sebagai sosok yang cukup tekun dan serius dalam belajar. Ia juga memiliki kebiasaan membaca buku di waktu luang. Ketertarikannya terhadap dunia literasi membuatnya bercita-cita menjadi seorang penulis di masa depan.
Dalam sebuah pernyataannya, Adnan menjelaskan alasan mengapa ia memilih Universitas Al-Azhar sebagai tempat menuntut ilmu:
“Saya ingin belajar agama bukan hanya untuk menambah pengetahuan, tetapi juga untuk memperbaiki diri. Menurut saya, Al-Azhar memiliki tradisi keilmuan yang dijaga melalui talaqqi dan sanad yang jelas. Selain itu, saya tertarik dengan cara berpikir wasathiyah yang diajarkan di sana. Di zaman sekarang, umat Islam membutuhkan cara pandang yang tenang, moderat, dan tetap berpegang pada manhaj Ahlussunnah wal Jamaah. Saya berharap proses belajar di Mesir nanti bisa menjadi jalan untuk terus memperbaiki akhlak dan memberi manfaat kepada orang lain.”
Universitas Al-Azhar sendiri dikenal sebagai salah satu pusat studi Islam tertua di dunia yang telah melahirkan banyak ulama dan cendekiawan muslim internasional. Berdiri di Kairo sejak abad ke-10, lembaga ini memiliki pengaruh besar dalam perkembangan ilmu-ilmu keislaman, khususnya dalam bidang akidah, tafsir, hadis, bahasa Arab, dan fikih.
Beberapa tokoh yang menjadi inspirasi Adnan di antaranya adalah kedua orang tuanya, keluarga, serta ulama Mesir seperti Ahmed el-Tayeb, Muhammad Metwally Al Shaarawy, dan Ali Gomaa. Menurutnya, para ulama tersebut menunjukkan bahwa ilmu dapat disampaikan dengan cara yang bijak, lembut, dan tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Adnan berencana melanjutkan langkahnya menuju Fakultas Ushuluddin jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir. Baginya, memahami Al-Qur’an bukan sekadar mempelajari teks, tetapi juga memahami bagaimana pesan-pesan Al-Qur’an dapat diterapkan dalam kehidupan masyarakat secara bijak dan seimbang.

