Ciamis (Afwaja) – Dalam perjalanan panjang sejarah peradaban Islam, terdapat institusi-institusi yang tidak hanya berfungsi sebagai pusat pendidikan, tetapi juga sebagai penjaga nilai, tradisi, dan pemikiran umat. Salah satu yang paling menonjol adalah di , yang hingga kini tetap berdiri kokoh sebagai mercusuar ilmu dan moderasi.
Seorang ulama besar kontemporer, , pernah menyampaikan sebuah pernyataan yang menggambarkan posisi strategis Al-Azhar dalam dunia Islam:
“Al-Azhar adalah benteng terakhir bagi Islam moderat dan penjaga warisan keilmuan umat.”
Sekilas Biografi Syekh Yusuf Al-Qaradawi
lahir di pada tahun 1926. Sejak usia muda, ia telah menunjukkan kecintaan mendalam terhadap ilmu agama. Pendidikan tingginya ditempuh di , tempat ia mendalami ilmu syariah hingga meraih gelar doktor.
Ia dikenal sebagai ulama dengan pendekatan wasathiyyah (moderat), yang berusaha menjembatani antara teks agama dan realitas kehidupan modern. Selain aktif berdakwah, ia juga produktif menulis berbagai karya penting, di antaranya Al-Halal wal Haram fil Islam. Dalam kiprah globalnya, ia pernah menjabat sebagai Ketua .
Al-Azhar dan Moderasi Islam
Sejak didirikan pada abad ke-10, Al-Azhar telah menjadi simbol Islam yang moderat (wasathiyyah). Moderasi yang diajarkan di Al-Azhar bukan sekadar konsep teoritis, tetapi menjadi pendekatan nyata dalam memahami ajaran Islam secara seimbang—antara teks dan konteks, antara tradisi dan pembaruan.
Dalam dunia yang kerap diwarnai oleh polarisasi pemikiran keagamaan, Al-Azhar hadir sebagai penyeimbang. Ia menolak ekstremisme, baik yang terlalu kaku (tekstual) maupun yang terlalu bebas (liberal tanpa batas). Para ulama Al-Azhar mengedepankan pendekatan ilmiah berbasis dalil, maqāṣid syarī‘ah, serta pertimbangan kemaslahatan umat.
Penjaga Warisan Keilmuan Islam
Selain sebagai benteng moderasi, Al-Azhar juga dikenal sebagai penjaga khazanah keilmuan Islam yang sangat luas. Ribuan manuskrip klasik, kitab turats, serta tradisi keilmuan yang bersambung dari generasi ke generasi masih hidup dan diajarkan di lembaga ini.
Berbagai disiplin ilmu diajarkan secara komprehensif, mulai dari tafsir, hadits, fiqih, ushul fiqih, hingga ilmu bahasa Arab dan filsafat. Pendekatan ini menjadikan lulusan Al-Azhar memiliki kedalaman ilmu sekaligus keluasan wawasan.
Tidak hanya itu, Al-Azhar juga berperan dalam mentransmisikan sanad keilmuan yang otoritatif. Hal ini menjadi penting di tengah maraknya penyebaran informasi keagamaan yang tidak terverifikasi di era digital saat ini.
Peran Global Al-Azhar
Pengaruh Al-Azhar tidak terbatas di Mesir saja. Lembaga ini telah melahirkan ulama, cendekiawan, dan dai yang tersebar di berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia. Banyak tokoh Islam Nusantara yang menimba ilmu di Al-Azhar, kemudian kembali ke tanah air untuk mengembangkan dakwah yang damai dan inklusif.
Melalui jaringan globalnya, Al-Azhar juga aktif dalam dialog antaragama, upaya perdamaian dunia, serta melawan ideologi ekstremisme. Hal ini semakin mengukuhkan perannya sebagai institusi yang tidak hanya menjaga masa lalu, tetapi juga membangun masa depan umat Islam.
Relevansi di Era Kontemporer
Di tengah tantangan globalisasi, radikalisme, dan krisis otoritas keilmuan, keberadaan Al-Azhar menjadi semakin relevan. Ia menjadi rujukan bagi umat Islam dalam mencari pemahaman agama yang lurus, moderat, dan berakar pada tradisi yang kuat.
Pernyataan bukanlah sekadar pujian, melainkan pengakuan atas peran nyata Al-Azhar dalam menjaga keseimbangan pemikiran Islam. Sebagai benteng terakhir moderasi dan penjaga warisan keilmuan, Al-Azhar terus berdiri di garis depan dalam membimbing umat menuju pemahaman agama yang rahmatan lil ‘alamin.
Al-Azhar bukan hanya sebuah universitas, melainkan simbol peradaban Islam yang hidup. Ia adalah jembatan antara masa lalu dan masa depan, antara tradisi dan modernitas. Selama Al-Azhar tetap menjaga prinsip-prinsipnya, maka harapan akan keberlangsungan Islam yang moderat dan berilmu akan selalu terjaga.


