Ciamis – Ketika kita mengenang Mohammad Hatta—Wakil Presiden pertama Republik Indonesia—yang terlintas biasanya adalah sosok negarawan, ekonom, dan tokoh koperasi. Banyak orang tahu bahwa ia pernah menempuh pendidikan di Belanda dan menjadi salah satu pemimpin pergerakan kemerdekaan. Namun tidak banyak yang mengetahui bahwa dalam masa mudanya, Hatta hampir saja menempuh jalan hidup yang sangat berbeda: belajar agama di Timur Tengah dan mungkin menjadi seorang ulama.
Rencana Sang Kakek
Pada awal abad ke-20, pendidikan agama merupakan jalur penting bagi keluarga-keluarga Minangkabau yang religius. Kakek Hatta dari pihak ayah, yang dikenal dengan sebutan Pak Gaek, memiliki rencana besar untuk cucunya. Ia berniat membawa Hatta ke Mekkah saat menunaikan ibadah haji.
Tujuan perjalanan itu bukan hanya untuk berhaji, tetapi juga untuk membuka jalan pendidikan agama yang lebih tinggi bagi Hatta. Setelah belajar di Mekkah, Hatta direncanakan melanjutkan studi ke Al-Azhar University di Kairo, Mesir—salah satu pusat studi Islam tertua dan paling berpengaruh di dunia.
Rencana tersebut muncul setelah Pak Gaek melihat menurunnya kualitas pengajaran di Surau Batuhampar, tempat Hatta sebelumnya belajar agama. Ia berharap cucunya bisa memperoleh pendidikan Islam yang lebih mendalam langsung dari pusat tradisi keilmuan Islam di Timur Tengah.
Rencana yang Tidak Terwujud
Namun rencana besar itu tidak berjalan mulus. Di dalam keluarga muncul protes dan keberatan terhadap gagasan membawa Hatta yang masih muda pergi jauh ke Timur Tengah. Perdebatan keluarga pun terjadi.
Akhirnya muncul usulan kompromi: jika ada anggota keluarga yang tetap ingin berangkat, maka yang pergi adalah pamannya, Idris. Usulan ini kemudian diterima, sehingga Idris berangkat menggantikan Hatta.
Dengan keputusan itu, rencana Pak Gaek untuk membawa cucunya belajar ke Timur Tengah pun batal.
Jalan Hidup yang Berubah
Batalnya perjalanan tersebut membawa dampak besar terhadap masa depan Hatta. Ia tetap tinggal di Sumatera Barat dan melanjutkan pendidikan formalnya di sekolah modern Belanda, yaitu Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO).
Pendidikan modern inilah yang kemudian membuka jalan bagi Hatta untuk melanjutkan studi ke Belanda. Di sana ia belajar ekonomi di Handelshogeschool Rotterdam (kini dikenal sebagai Erasmus University Rotterdam). Selama masa studinya di Eropa, Hatta juga aktif dalam pergerakan nasional dan menjadi salah satu tokoh penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Jika rencana awal Pak Gaek terwujud, bukan tidak mungkin sejarah hidup Hatta akan mengambil arah yang berbeda—mungkin ia dikenal sebagai ulama lulusan Al-Azhar, bukan sebagai ekonom dan pemimpin pergerakan nasional.
Sebuah Kebetulan Sejarah
Kisah hampir berangkatnya Hatta ke Mesir menunjukkan bagaimana keputusan keluarga dan peristiwa kecil dapat mengubah arah sejarah seseorang. Dari seorang pemuda Minangkabau yang hampir belajar di pusat studi Islam dunia, Hatta justru menempuh jalur pendidikan Barat yang akhirnya membentuknya menjadi pemikir ekonomi dan pemimpin bangsa.
Sejarah sering kali ditentukan oleh pilihan-pilihan yang tampaknya sederhana. Dalam kasus Hatta, batalnya perjalanan ke Mesir justru membuka jalan bagi lahirnya salah satu tokoh paling penting dalam sejarah Indonesia.
Dan dari situlah perjalanan Mohammad Hatta menuju panggung sejarah bangsa benar-benar dimulai.



min