Logo Website 2.1
Search
Close this search box.

Sejarah Al-Azhar Kairo, Mesir

Masjid Al-Azhar - Photo by Seif Amr on Unsplash

Berawal dari Masjid Al-Azhar

Sejarah Masjid Al-Azhar

Masjid Al-Azhar Adalah Universitas Berintegritas Tertua di dunia. Dan merupakan salah satu tempat terpenting di Mesir dan paling terkenal didunia Islam. Di Ruwaq (Tiang-tiang masjid tempat belajar) menampung jutaan murid beserta gurunya (syekh). Hingga menjadi qiblat ilmu bagi seluruh umat muslim, sumber kemoderatan dan menara islam yang Agung. 

Al-Azhar telah melampau usia seribu tahun, memikul tanggungjawab ilmu pengetahuan, agama, nasionalisme dan peradaban terhadap umat dan seluruh bangsa islam. Ia adalah simbol kebudayaan, Referensi pokok keilmuan, dan platform dakwah yang terpercaya.

Masjid Al-Azhar didirikan oleh Jawhar As-Siqilli, panglima khalifah fatimiyyah Al-Muiz lidinillah, pada tanggal 24 jumadal awal 359 H/4 April 970 M, yaitu setahun setelah berdirinya kota kairo. Pembangunannya memakan waktu kurang lebih 27 bulan, dibuka untuk pelaksanaan shalat jumat tanggal 7 Ramadhan tanggal 361 H, bertepatan dengan tanggal 21 juni 972 M. 

Dan tak lama kemudian diubah menjadi Universitas. Dan penamaan Masjid Al-Azhar diambil dari nama anak perempuan Nabi SAW yaitu sayyidah Fatimah Azzahra, yang merupakan istri dari khalifah Ali bin Abi Thalib RA, yang kepadanya fatimiyah dinisbatkan menurut pendapat yang rajih (kuat).

Masjid Al-Azhar dari Masa ke Masa

Keruntuhan Dinasti Fatimiyah

Setelah runtuhnya Daulah Fatimiyah di tangan Sultan Al-Nasir Sholahuddin Al-Ayyubi pada Tanggal 3 Muharram 567 H/11 September 1171 M, dan pada tahun itu beliau menutup sementara Masjid Al-Azhar dan mendirikan beberapa mazhab Sunni untuk bersaing dalam misi keilmuannya untuk memberantas aliran Syiah di Mesir. Dengan langkah ini beliau mampu mengembalikan aliran Sunni ke Mesir dengan penuh vitalitas. Beliau aktif sehingga mengakhiri hubungan Masjid Al-Azhar dengan doktrin Syiah.

 

Di Bawah Dinasti Mamluk

Masjid Al-Azhar menjadi saksi atas transformasi besar di bawah pemerintahan Mamluk (648-923 H/1250-1517 M). Masjid Al-Azhar dibuka kembali dan dibarengi pelaksanaan shalat Jumat pada tahun 665 H/1267 M, dan para sultan Mamluk dengan cepat bergerak mengembalikan Al-Azhar pada kegiatan keilmuannya, mengarahkan kegiatan ini ke arah Sunni (menurut empat mazhab). 

Masjid pada era ini mendominasi kepemimpinan agama dan keilmuan, serta menjadi pusat utama kajian Sunni di Mesir dan dunia Islam, terutama setelah jatuhnya Bagdad di Timur, dan disintegrasi kekuasaan Islam di Andalusia dan Afrika Utara, serta disintegrasi pemerintahan Islam di Andalusia dan Afrika Utara. 

Harapan umat Islam terkonsentrasi di dalamnya, sehingga menjalankan misi ilmiah dan keagamaan yang telah dianugerahkan Allah kepadanya, dan menjadi universitas Islam terbesar yang dikunjungi oleh para pencari ilmu dari semua lapisan masyarakat, dan menjadi tujuan populer bagi para ulama dunia Islam di bumi timur dan barat.

Ilmu-ilmu yang diajarkan di Masjid Al-Azhar pada masa itu semakin bertambah dan beragam seperti ilmu Aqidah, Syariah, Bahasa Arab, dan Filsafat. Selain daripada kajian sejarah, penanggalan negara, dan ilmu-ilmu lainnya. Tiga Sekolah juga didirikan dan melekat pada Masjid Al-Azhar, yaitu: (Al-Taybarsiyya, Al-Aqbaghawiyah, dan Al-Jawhariyah). 

Pengajaran diselenggarakan di sana, yang berujung pada pengadaan gerakan keilmuan di Masjid Al-Azhar. Namun, hal terpenting yang membedakan Al-Azhar di era Mamluk adalah didirikannya tempat tinggal bagi mahasiswa asing dan Mesir di dalamnya, yang dikenal dengan nama ruwaq.

Di Bawah Kekaisaran Ottoman

Di bawah pemerintahan Ottoman di Mesir (923 – 1213 H/1517 – 1798 M), Masjid Al-Azhar tetap mempertahankan kekuatan dan tradisinya selama tiga abad, dan terus menjalankan dakwahnya dalam bahasa Arab dalam bidang keagamaan dan pendidikan. 

Kota ini tetap menjadi rumah bagi studi agama, surga bagi bahasa Arab, dan Ka’bah ilmiah. Yang menjadi tempat datangnya tokoh-tokoh pemikir Islam terkemuka. 

Mereka memimpin lingkaran studi dalam cakupannya, dan dampaknya terhadap kehidupan Mesir begitu kuat dan mendalam. Dan tersebar luas sehingga melestarikan karakter Arab Mesir sepanjang masa pemerintahan Ottoman. 

Para pencari ilmu dari berbagai belahan dunia Islam pun berbondong-bondong datang ke sana untuk menimba ilmu dari berbagai ilmu yang diajarkan di sana, dan salah satu keistimewaannya yang terpenting adalah Al-Azhar pada era tersebut adalah munculnya kedudukan Syekh Al-Azhar.

Arsitektur Masjid Al-Azhar Sepanjang Zaman

Selama berabad-abad, dari awal berdirinya hingga saat ini, Masjid Al-Azhar telah mendapat perhatian para khalifah, sultan, pangeran, dan penguasa dalam arsitekturnya. Baik dari segi perluasan, pembangunan, maupun pemugarannya, terutama pada masa Mamluk. yang terakhir adalah pekerjaan pemugaran menyeluruh yang berakhir pada tahun 1439 H/2018 M, yang berlangsung kurang lebih tiga tahun, dan luasnya 12 ribu meter persegi.

Sejarah Pendidikan Al-Azhar

Masjid Al-Azhar adalah Universitas Tertua dan berintegritas lengkap di dunia dari segi berbagaimacam cabang ilmu pengetahuan,  madzhab fiqih, pelajar dari segala penjuru dunia, buku pelajaran, perpustakaan umum, dan tempat tinggal. Di mana semua sarana penghidupan disediakan gratis. Ini adalah pelopor kemajuan dan kemakmuran, dan simbol kemampuan rakyat Mesir. 

Apalagi bangsa Arab dan Islam pada umumnya dibedakan oleh kemajuan budaya dan pencapaian ilmu pengetahuan mereka. Pemberiannya selama berabad-abad tidaklah sia-sia. sebatas pada ilmu-ilmu syariat dan bahasa, namun kedermawanannya meluas pada ilmu-ilmu duniawi yang memberi manfaat bagi seluruh umat manusia.

Sejak Masjid Al-Azhar menjadi universitas keilmuan, pembelajaran di sana berjalan secara alami dan lancar, tanpa legalisasi atau kerumitan. Mahasiswa akan datang kesana dengan motivasi keinginan untuk mencari ilmu, dan batasan usia tidak akan menghalangi keinginannya. 

Jumlah tahun yang ia habiskan untuk belajar tidak akan menghentikannya. Kepada siapapun yang ia inginkan dari para profesor, ia dapat mengambil manfaat dari banyaknya pengetahuan mereka selama bertahun-tahun yang ia inginkan. 

Pada awalnya, Studi di Masjid Al-Azhar didasarkan pada pengajaran ilmu-ilmu agama dan bahasa Arab, dan tidak ada ujian atau ijazah, melainkan Syekh ditugaskan di ruwaq Masjid Al-Azhar, dan dia menerima pelajarannya diwaktu tertentu setiap hari, dan siapapun yang menginginkan dari tetangga atau orang lain dapat mendengarkannya tanpa batasan. Mereka duduk mengelilinginya dalam lingkaran, mendengarkannya dan menuliskan apa yang didiktekannya.

Jika ada salah satu murid menguasai sebuah pelajaran, maka dia akan mendatangi Syekh dan menceritakan apa yang dia hafal atau pahami, dan Syekh akan mendiskusikannya dengannya. Jika murid tersebut berhasil dalam diskusi, maka Syekh akan izinkan dia. 

Dan kajian utama pada saat itu adalah diskusi dan dialog antara para siswa dan gurunya sedemikian rupa sehingga mendidik pikiran dan mengembangkan kemampuan pemahaman. 

Mereka tetap dalam posisi ini untuk waktu yang lama hingga situasi mengharuskan penetapan undang-undang khusus bagi Al-Azhar, para santri, ulama, administrasi, dan studi di dalamnya.

Pelajaran

Ilmu-ilmu yang diajarkan di Masjid Al-Azhar tercakup dalam dua puluh ilmu, seperti:

  • Fiqih
  • Tafsir
  • Riwayat dan ilmu hadis
  • Terminologi hadist
  • Tauhid
  • Hikmah filsafat
  • Tasawuf
  • Tata bahasa
  • Torfologi
  • Logika
  • Al-Maani
  • Al-Bayan
  • Al-Badi’
  • Aritmatika
  • Aljabar dan kontras
  • Astronomi
  • Bahasa
  • Situasi
  • Wadh’i
  • Sajak

Sistem Belajar Harian

Pembelajaran di Masjid Al-Azhar dimulai setelah salat subuh hingga salat magrib.

Tahapan Pendidikan

Di kalangan pelajar dan ulama pada masa itu, sudah lazim bahwa pembelajaran dibagi menjadi tiga tahap: tahap pertama, di mana kitab-kitab mudah diajarkan kepada murid pemula. tahap kedua, di mana kitab-kitab menengah/mutawasith diajarkan kepada yang lebih mumpuni daripada murid tahap satu. dan tahap ketiga, di mana kitab-kitab yang paling penting dan paling sulit ditulis oleh sekelompok ulama terkemuka dipelajari. 

Jika siswa selesai mempelajari kitab-kitab kecil dan lupa sendiri bahwa boleh melanjutkan ke sesuatu yang lebih luhur, dia akan berpindah ke kalangan syekh yang mengajarkan kitab-kitab besar, dan seterusnya sampai dia menyelesaikan studinya.

Bagikan Artikel Ini:

Join Our Newsletter